Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i membuka kegiatan Muharram Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 H di Unit Percetakan Al-Quran, Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026). (Foto: Kemenag)
BOGOR, (ERAKINI) - Kementerian Agama (Kemenag) tengah menyusun kurikulum pendidikan yang akan diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran yang sudah berjalan sebagai upaya mencegah paparan budayaLGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer) pada -.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i mengatakan, materi yang disusun akan berfokus pada penguatan pemahaman keagamaan mengenai larangan praktik LGBTQ.
"Ya, saya juga ingin mengatakan kenapa Kemenag kemudian berinisiasi menyusun kurikulum yang akan di-insert ke kurikulum yang berjalan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak didik agar tidak terpapar oleh budayaLGBTQ. Karena LGBTQ itu juga pengingkaran dari Al-Qur'an," ujar Romo Syafi'i di Bogor, Kamis (30/7/2026).
Dia menegaskan, kurikulum tersebut tidak dimaksudkan untuk tujuan lain selain memberikan pemahaman keagamaan sesuai ajaran kitab suci masing-masing agama yang diakui di Indonesia.
Menurut Romo Syafi'i, dalam Islam terdapat sejumlah ayat yang menjadi dasar pemahaman mengenai penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan.
"Jadi lagi-lagi itu hanya sosialisasi pengamalan Al-Qur'an. Dalam Qur'an itu kan dikenal 'man 'amilashalihanmindzakarinauuntsa', laki-laki dan perempuan. 'Yaayyuhannasuinnakhalaqnakummindzakarinauuntsa', wahai manusia Aku ciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan. Jadi itu bagian dari pengamalan Al-Qur'an," tuturnya.
Lebih lanjut, Romo Syafi'i mengatakan, langkah penyusunan kurikulum tersebut juga merujuk pada arahan pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 yang, menurutnya, menempatkan persoalan tersebut sebagai bagian dari ancaman nonmiliter.
"Karena itu begitu Presiden memberi isyarat dengan Perpres Nomor 111 Tahun 2025, maka Kemenag bergerak cepat bahwa ini keadaan sudah sangat darurat sampai-sampai Presiden mengatakan itu adalah ancaman pertahanan non-militer," kata dia.
Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, tim penyusun kurikulum telah dibentuk dan proses penyusunannya hampir rampung. Kemenag menargetkan materi tersebut dapat mulai diterapkan pada tahun ajaran yang sedang berjalan.
"Karena itu kita segera buat tim dan sudah hampir selesai, mungkin tahun ajaran ini sudah mulai di-insert ke kurikulum berjalan agar anak-anak tidak terpapar dengan budayaLGBTQ," beber Romo Syafi'i.
Untuk tahap awal, kurikulum tersebut akan diterapkan di lingkungan pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Namun, Kemenag juga telah menjalin komunikasi awal dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
"Ya, untuk sementara ini kita mulai di Kementerian Agama. Tapi kemarin sudah ada sounding kita dengan Dikdasmen, kalau itu sudah selesai mungkin mereka juga akan, apakah menduplikasi atau mengembangkan atau seperti apa," kata Romo Syafi'i.
Menurut dia, materi tersebut penting disampaikan kepada seluruh peserta didik di Indonesia karena menyangkut aspek pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Romo Syafi'i menjelaskan, kurikulum yang sedang disusun tidak hanya diperuntukkan bagi pendidikan agama Islam, tetapi juga seluruh pendidikan keagamaan yang berada di bawah pembinaan Kemenag.
Dia menyebut tim penyusun melibatkan perwakilan dari berbagai agama, termasuk Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.
"Semua pendidikan keagamaan. Di Kementerian Agama itu kan bukan Kementerian Agama Islam, ada juga Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu. Dan tim yang dibentuk itu di dalamnya lengkap ada tim dari Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu," katanya.
Menurut Romo Syafi'i, seluruh unsur yang terlibat dalam penyusunan kurikulum tersebut memberikan pandangan keagamaan masing-masing terkait isu LGBTQ.
"Jadi mereka memberikan dasar-dasar pemahaman keagamaan yang ternyata semua agama yang diakui di Indonesia ini menolak budayaLGBTQ," pungkasnya.