Ilustrasi - BMKG menyampaikan, 3 provinsi siaga hujan lebat dan 23 wilayah lainnya waspada adanya potensi angin kencang hingga 3 Agustus 2026. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 31 Juli hingga 3 Agustus 2026. Meski musim kemarau semakin mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi cuaca ekstrem masih membayangi sejumlah daerah. meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap , , sambaran petir, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam prakiraan terbarunya, BMKG menetapkan 3 provinsi berada pada status siaga karena berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, yaitu:
1. Aceh
2. Sumatra Barat
3. Bengkulu
Kondisi tersebut berpotensi memicu banjir, genangan, longsor di wilayah rawan, serta gangguan aktivitas masyarakat apabila intensitas hujan berlangsung dalam waktu lama. Selain hujan ekstrem, BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang di 23 provinsi, meliputi:
1. Aceh
2. Kepulauan Bangka Belitung
3. Bengkulu
4. Lampung
5. Banten
6. Jawa Barat
7. Jawa Tengah
8. Jawa Timur
9. Nusa Tenggara Barat
10. Nusa Tenggara Timur
11. Kalimantan Barat
12. Kalimantan Tengah
13. Kalimantan Selatan
14. Sulawesi Utara
15. Gorontalo
16. Sulawesi Selatan
17. Sulawesi Tenggara
18. Maluku Utara
19. Maluku
20. Papua Barat Daya
21. Papua Barat
22. Papua Tengah
23. Papua Selatan
Dengan cakupan tersebut, lebih dari separuh provinsi di Indonesia berpotensi mengalami hembusan angin kencang yang dapat memicu pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, hingga gangguan transportasi.
Secara umum, kondisi cuaca di Indonesia diperkirakan didominasi langit cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, BMKG memprediksi hujan berintensitas sedang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah, antara lain: Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua Pegunungan.
Hujan di sejumlah wilayah tersebut berpotensi disertai kilat, petir, dan embusan angin yang terjadi secara lokal.
BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau kini semakin mendominasi berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan udara menjadi lebih kering dan suhu udara meningkat, sehingga masyarakat diminta menjaga kesehatan dengan mengurangi paparan langsung sinar matahari, menggunakan pelindung atau tabir surya, serta memperbanyak konsumsi air untuk mencegah dehidrasi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Di sisi lain, cuaca kering juga meningkatkan risiko munculnya titik panas (hotspot) dan kebakaran hutan maupun lahan. Karena itu, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, terutama di kawasan gambut, semak belukar, hutan, maupun lahan kering yang mudah terbakar.
BMKG juga mengajak pemerintah daerah dan masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi munculnya titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Meski sebagian besar wilayah telah memasuki musim kemarau, potensi hujan lokal yang disertai angin kencang dan petir masih dapat terjadi sewaktu-waktu. BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap risiko pohon tumbang, baliho roboh, genangan air, hingga sambaran petir.
Saat cuaca memburuk, masyarakat disarankan tidak berteduh di bawah pohon rindang, papan reklame, maupun bangunan yang rapuh demi menghindari risiko kecelakaan. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal terhadap potensi cuaca ekstrem, kekeringan, maupun kebakaran hutan dan lahan.