Lutfi Alzuhri membuktikan bahwa alumni perguruan tinggi swasta (PTS) pun bisa menembus universitas kelas dunia seperti UNSW Australia. Foto: Dok Pribadi
JAKARTA, (ERAKINI) – Siapa bilang kuliah di kampus top dunia luar negeri hanya bisa dilakukan oleh lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) ternama seperti UI, ITB, atau UGM? Lutfi Alzuhri membuktikan bahwa alumni perguruan tinggi swasta (PTS) pun bisa menembus universitas kelas dunia.
Lulusan kampus swasta di Jakarta itu kini menempuh studi S2 di University of New South Wales (UNSW) Sydney, salah satu universitas negeri di Australia yang termasuk dalam jajaran 20 universitas terbaik di dunia versi QS World University Rankings.
Namun, perjalanan Lutfi untuk sampai ke sana tidak semudah membalik telapak tangan. Lewat Indonesia Mengglobal, Lutfi membagikan kisah perjalanannya hingga bisa menembus UNSW.
“Kampus luar negeri tertarik melihat perjalanan dan potensi kita. Mereka ingin tahu bagaimana kita berpikir, berkontribusi, dan seberapa kuat motivasi untuk berkembang,” kata Lutfi, dikutip dari laman resmi Indonesia Mengglobal, Senin (13/10/2025).
Ia mengaku sempat minder karena merasa bukan berasal dari kampus besar yang sering menjadi langganan penerima beasiswa luar negeri. "Saya tahu betul perasaan minder itu. Dulu, tiap lihat postingan orang yang dapat beasiswa LPDP atau diterima di kampus luar negeri, nama kampus mereka terlihat keren semua. Sementara saya, dari kampus swasta yang kadang orang baru dengar namanya setelah saya ulang dua kali,” ujarnya.
Meski sempat ragu, Lutfi akhirnya menyadari bahwa universitas luar negeri tidak menilai kandidat hanya dari almamater, melainkan dari kualitas pribadi, motivasi belajar, serta kontribusi nyata yang pernah dilakukan. "Ada rasa tidak percaya diri, saya akan ditolak mentah-mentah hanya karena asal kampus. Tapi ternyata, yang dinilai itu bukan sekadar almamater," tandasnya.
Bangun Portofolio
Alih-alih sibuk membandingkan asal kampus, Lutfi mulai fokus membangun portofolio dan rekam jejak akademik yang kuat. Ia memperbaiki IPK, aktif di organisasi, mengikuti lomba esai dan publikasi, serta mencari pengalaman magang yang relevan.
"Saya bangun pengalaman kerja atau magang, walaupun kecil, yang penting berkaitan dengan passion dan bidang studi yang saya incar. Saya belajar cara membuat personal statement yang kuat. Bukan sekadar daftar prestasi, tapi cerita tentang perjalanan hidup, kenapa saya memilih jurusan itu, dan apa kontribusi saya ke depan," ucapnya.
Bagi calon mahasiswa di bidang desain atau industri kreatif, Lutfi juga menekankan pentingnya membangun portofolio visual profesional, seperti karya desain, proyek freelance, atau sertifikasi terkait.
Ia juga menyarankan untuk mengunggah karya di platform seperti Behance atau Dribbble, serta menyiapkan portofolio PDF berisi 5–10 karya terbaik. "Ingat, kampus luar negeri lebih peduli tentang kualitas, proses berpikirmu dalam hal yang kamu kerjakan, dan bagaimana kamu menjelaskan karya itu, daripada sekadar banyak-banyakan karya," ucapnya.
Yang Dinilai Kampus Dunia
Setelah menyiapkan segalanya, Lutfi mengirimkan aplikasi ke beberapa kampus luar negeri. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa universitas top dunia melihat lebih dari sekadar nama universitas asal.
“Mereka menilai pengalaman unik, motivasi belajar, rencana kontribusi ke depan, dan bagaimana kita bisa memperkaya komunitas akademik mereka,” jelasnya.
Usahanya tidak sia-sia. Lutfi berhasil memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari beberapa kampus ternama sebelum akhirnya memilih UNSW Sydney. “Bahkan, salah satu pewawancara beasiswa bilang: We’re more interested in your journey and passion rather than where you graduated from (Kami lebih tertarik pada perjalanan dan hasrat Anda daripada tempat Anda lulus). Itu membuat saya semakin yakin,” kenangnya.
Kini, setelah resmi menjejakkan kaki di kampus UNSW, Lutfi ingin menyampaikan pesan penting bagi mahasiswa di Indonesia yang mungkin masih ragu mengejar impian kuliah di luar negeri.
“Rasa minder itu wajar, tapi jangan biarkan jadi alasan untuk berhenti berusaha. Yang membawa kita jauh bukan nama kampus, tapi semangat dan kerja keras,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa siapa pun bisa bersinar, asal berani mencoba dan konsisten memperbaiki diri. “Bukan almamatermu yang akan membawamu jauh. Tapi semangatmu, kerja kerasmu, dan ketulusanmu dalam mengejar impian,” tutupnya.
Untuk itu, kata dia, mulai sekarang daripada sibuk mengeluh soal asal kampus, lebih baik terus memperbaiki kualitas diri. Baik itu membangun portofolio, asah kemampuan, perluas wawasan, dan buat cerita hidup yang layak diceritakan.
"Dunia ini besar, dan tempatmu di dunia ini tidak ditentukan oleh nama universitas di ijazahmu, tapi oleh tekad di hatimu. Saya sudah membuktikannya, sekarang giliranmu," tutupnya.
Profil Lutfi Alzuhri Lutfi Alzuhri merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti angkatan 2014. Lutfi saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Desain di UNSW melalui Beasiswa Australia Awards (2024–2026.
Ia memiliki pengalaman lebih dari 8 tahun sebagai desainer UI/UX dan lebih dari 4 tahun sebagai digital strategist. Lutfi memulai karier di industri kreatif digital, dan kini mendedikasikan diri menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Ia pernah menjadi bagian dari berbagai ajang internasional, seperti Annual Meetings Indonesia 2018, Presidensi G20 Indonesia 2022, dan Keketuaan ASEAN 2023.
Sembari menempuh studi di UNSW Australia, Lutfi kini aktif sebagai Trade Analyst di ITPC Sydney, berfokus pada studi perdagangan, intelijen pasar, dan analisis peluang ekspor Indonesia.