Puisi-Puisi Fandi Abdillah
Fandi Abdillah
Sisa Pejam
seperti sebuah fiksi
aku terhempas sesuatu yang kau lempar
dari ujung jalan
di bawah lampu temaram
apa yang bisa kulakukan menghadapi senyumanmu?
mereka menjebakku jauh dalam fatamorgana
seakan keramaian seluruh kota jatuh di dadaku
yang sebenarnya kesepian
akhir-akhir ini segalanya tampak indah
ketika kedua mataku terpejam
entah mengapa
meskipun itu mustahil
di sana ada dirimu di sampingku
(Semarang 2016)
Matahari Tidak Akan Terbit di Negeri Ini!
Pagi gerimis
tidak ada yang menagisi negeri kita
sejak benar adalah tindakan yang berbahaya
dalam sebuah cerita
kawanan kerbau tidak pernah bertanya,
"sejak kapan sebuah pecut mengendalikan kedunguan?"
tapi apakah itu kita?
melangkah tatih di atas lumpur
membawa rintih yang tersangkut di tenggorokan
memercayai kemerdekaan
memercayai demokrasi
pagi ditelan hujan
dan mempertanyakan adalah kesalahan
suatu hari
ada yang memercayai kebenaran adalah matahari
tapi kemudian ia mati
entah dipecut keberapa oleh siapa
entah apa yang diketahuinya
matahari tidak akan terbit di negeri ini!
selama kebenaran dibungkam
selama kemerdekaan dipenjara
selama penegak hukum menegakkan hukum dengan melanggar hukum
selama pemimpin yang memaksakan diri untuk dipercaya tak bisa dipercaya
dan selama kita diam tak berbuat apa apa
(Semarang 2016)
Degubku yang engkau
Berpalinglah sejenak
kekasih
pandang mataku yang malam
gelap mendambamu
sudikah engkau
aku masih saja mencarimu
pada keping hening yang kau tabur
lewat mimpi-mimpi
kedua matamu
kejora kembar yang sinarnya adalah hidup
dan kedipnya adalah rahasia semesta
pandanglah mataku, kekasih
sempurnakanlah malam
jawab segala degup risauku
yang senantiasa engkau


















