Lagu 'Hari Merdeka' dihidupkan kembali dengan aransemen megah Erwin Gutawa, kolaborasi musisi lintas generasi. (Foto: Istimewa).
JAKARTA, (ERAKINI) — Kementerian Kebudayaan mengambil langkah untuk kembali mendekatkan lagu-lagu nasional dan perjuangan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Upaya tersebut diwujudkan melalui penggarapan ulang lagu 'Hari Merdeka' karya Husein Mutahar yang diciptakan pada 1946.
Lagu yang lekat dengan perjalanan sejarah perjuangan bangsa itu kini mendapat sentuhan musikal baru dari Erwin Gutawa, dengan melibatkan deretan penyanyi lintas generasi seperti Ahmad Albar, Ardhito Pramono, Harvey Malaihollo, Judika, Novia Bachmid, Rita Butarbutar, Ruth Sahanaya, Shabrina Leanor, Titiek Hamzah, hingga Vina Panduwinata.
Aransemen baru ini bukan sekadar menghadirkan nuansa musik yang berbeda, tetapi juga menjadi upaya menerjemahkan kembali pesan patriotisme dan semangat kemerdekaan agar lebih dekat dengan selera pendengar masa kini.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, keberadaan lagu nasional dan perjuangan perlu terus diperkuat agar tidak kehilangan tempat di tengah derasnya perkembangan industri musik. Menurutnya, masyarakat saat ini memiliki pilihan musik yang sangat beragam, sehingga lagu-lagu perjuangan membutuhkan pendekatan baru agar tetap diminati.
“Saat ini Indonesia memerlukan lagu-lagu kebangsaan yang semakin relevan, semakin disukai, semakin digunakan. Hal tersebut diperlukan karena pilihan lagu sekarang ini banyak sekali, mulai dari lagu-lagu nasional, lagu-lagu Indonesia, hingga lagu-lagu pop yang bertebaran," katanya.
Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat Indonesia masih memilih musik atau lagu karya musisi Indonesia. Karena itu, generasi milenial dan Gen Z dinilai perlu kembali diperkenalkan dengan karya-karya yang tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menyimpan kisah tentang perjalanan bangsa dan perjuangan para tokoh di masa lalu.
Namun, untuk lagu perjuangan, lanjut dia, diperlukan afirmasi agar keberadaannya tetap kuat di tengah perkembangan musik dan perubahan selera masyarakat.
"Generasi yang lebih muda, termasuk generasi milenial dan Gen Z, perlu diperkenalkan kembali kepada lagu-lagu nasional dan perjuangan. Lagu-lagu tersebut tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menyimpan cerita mengenai perjalanan bangsa dan tokoh-tokoh yang turut berjuang pada masanya. Upaya aransemen ulang lagu 'Hari Merdeka' merupakan langkah awal untuk menghadirkan kembali lagu-lagu perjuangan. Jadi, bukan hanya (lagu) ini. LaguHari Merdeka mungkin permulaan. Jadi lagu Syukur, Dari Sabang Sampai Merauke, dan yang lain-lain, kalau dinyanyikan oleh maestro-maestro lintas generasi, pasti akan menarik," katanya.
Pihaknya berharap nanti Kementerian Kebudayaan mengadakan penciptaan lagu-lagu nasional, lagu-lagu yang berbau nasionalisme dan patriotisme baru. Selain itu, Menbud berharap kolaborasi lintas generasi tersebut dapat menghadirkan daya tarik baru bagi lagulagu perjuangan sekaligus mempertemukan pengalaman musikal dari berbagai generasi.
Video aransemen baru lagu 'Hari Merdeka' yang diluncurkan perdana di TVRI, dapat disaksikan oleh masyarakat luas melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan, atau klik di sini!
Erwin Gutawa selaku arranger menegaskan bahwa lagu-lagu bertema nasionalisme, utamanya lagu perjuangan, sudah sepatutnya memiliki tempat yang istimewa, karena kandungan sejarahnya.
"Dengan aransemen baru 'Hari Merdeka' dan kolaborasi dengan penyanyi lintas generasi ini, saya berharap bisa menjadi pengingat sekaligus penyemangat akan makna-makna perjuangan dan kemerdekaan, serta menyentuh seluruh lapisan generasi di masa kini,” katanya.
Aransemen ulang lagu 'Hari Merdeka' ini diharapkan jadi langkah awal dari upaya Kementerian Kebudayaan, khususnya di bawah Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, untuk mempopulerkan kembali lagu-lagu nasional Indonesia yang tidak hanya kaya secara makna dan nilai historis, namun juga memiliki kualitas musik yang luar biasa.