Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso, seniman ikonik multitalenta Yogyakarta yang meninggal dunia hari ini, Senin (21/9/2026). (Foto: Facebook/Ringgit Wacucal Nusantara).
YOGYAKARTA, (ERAKINI) – Dunia seni pertunjukan Indonesia kembali diselimuti kabar duka. Seniman senior asal Yogyakarta, Susilo Nugroho, yang selama puluhan tahun dikenal masyarakat melalui karakter ikonik Den Baguse Ngarso, meninggal dunia pada Senin (21/9/2026).
Kabar wafatnya Susilo Nugroho dibenarkan oleh kerabatnya, Hesti. Ia mengungkapkan, informasi tersebut diterimanya setelah mendapat telepon dari istri Susilo yang memintanya memastikan kondisi sang seniman.
Sementara itu, seniman sekaligus budayawan Yogyakarta, Bambang Paningron, menyampaikan bahwa jenazah Susilo Nugroho masih berada di Rumah Sakit Bethesda. Bambang mengenang almarhum sebagai pelawak yang memiliki keberanian menyampaikan kritik sosial dan pemerintahan melalui humor serta guyonan yang khas.
Lahir di Yogyakarta pada 5 Januari 1959, sosok dengan nama asli Drs. Susilo Nugroho telah menunjukkan ketertarikannya terhadap seni peran sejak usia muda. Ia mulai memasuki dunia akting ketika masih berstatus pelajar SLTA pada 1977.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Suryodiningratan II Yogyakarta dan selesai pada 1971, kemudian melanjutkan ke SLTP Pangudi Luhur I Yogyakarta hingga 1974 dan SMA Kolese de Britto Yogyakarta hingga 1977. Meski bukan lulusan pendidikan seni, Susilo kemudian menempuh pendidikan tinggi di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta pada jurusan Ekonomi dan menyelesaikan studinya pada 1982. Kemampuan artistiknya justru berkembang melalui keterlibatan langsung dalam berbagai komunitas seni dan kelompok teater.
Nama Susilo semakin melekat di tengah masyarakat ketika ia memerankan Den Baguse Ngarso dalam serial televisi Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Yogyakarta sejak 1988 hingga 2008. Karakter seorang priyayi yang angkuh, keras, merasa paling tahu, dan gemar menyampaikan pendapat secara menyengat itu menjadi salah satu peran yang paling identik dengan dirinya.
Di luar layar kaca, Susilo merupakan salah satu pendiri Teater Gandrik pada 1983 bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih. Dari kelompok tersebut, ia tampil dalam berbagai produksi sekaligus mengembangkan kiprahnya sebagai penulis naskah.
Ia juga terlibat sebagai sutradara ketoprak di komunitas Kethoprak Tjonthong Djogjakarta serta tampil dalam opera Our Indonesia bersama sejumlah seniman, di antaranya Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor.
Jejak Susilo tidak berhenti di panggung teater dan televisi. Ia turut berkiprah dalam perfilman nasional melalui sejumlah judul, antara lain Preman in Love (2009), Ayat-Ayat Adinda (2015), dan Ipar Adalah Maut (2024).
Dalam film terakhir, ia memainkan karakter Junaedi, seorang dosen senior yang turut memberikan sentuhan humor dalam cerita. Susilo juga tercatat tampil dalam sejumlah film pendek, seperti Lemantun (2014), Nusabrata (2022), dan Mawawisa (2022).
Di luar aktivitasnya sebagai pekerja seni, Susilo Nugroho juga menjalani profesi sebagai pendidik. Ia mengakhiri masa pengabdiannya sebagai guru di SMK Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, pada 2019. Kendati telah memasuki masa pensiun sebagai guru, kecintaannya terhadap seni tidak pernah berhenti.
Bagi Susilo, berkesenian merupakan bagian penting dalam kehidupannya dan tidak mengenal batas usia maupun masa pensiun. Ia memandang teater, komedi, dan ketoprak sebagai bagian dari dunia seni peran yang memiliki akar yang sama. Humor yang dibangunnya pun kerap bertumpu pada ekspresi tajam dan kritik terhadap berbagai persoalan, mulai dari kehidupan sosial, politik, ekonomi hingga realitas keseharian.
Kepergian Susilo Nugroho meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan seni pertunjukan Indonesia. Selama puluhan tahun, ia menghadirkan karakter-karakter kuat yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menyelipkan kritik dan refleksi atas kehidupan masyarakat.
Dedikasinya bersama Teater Gandrik serta kiprahnya di televisi dan film membuat namanya memiliki tempat tersendiri dalam sejarah seni peran Indonesia. Warisan kreativitas dan keberaniannya menyampaikan kritik melalui panggung hiburan pun menjadi bagian dari perjalanan yang akan terus dikenang oleh penikmat seni dan generasi berikutnya.