Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) menggelar pameran 'Tawa Merdeka' yang akan menampilkan 81 kartun sarat humor dan kritik sosial untuk merayakan HUT Ke-81 RI pada 8–30 Agustus 2026 di Warung Tuman, BSD, Tangerang Selatan. (Foto: Istimewa).
TANGERANG SELATAN (ERAKINI) – Di tengah derasnya arus informasi dan kehidupan yang membuat masyarakat semakin mudah tersinggung, sekelompok kartunis memilih merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia dengan cara yang berbeda. Mereka tidak membawa pidato panjang, tidak pula menyuguhkan pertunjukan megah. Sebaliknya, mereka menghadirkan tawa sebagai bahasa kemerdekaan melalui puluhan karya kartun yang sarat kritik, humor, sekaligus refleksi sosial.
Semangat itulah yang diusung Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) melalui Pameran Kartun 'Tawa Merdeka', Pameran Kartun 17-an 2026 yang berlangsung pada 8–30 Agustus 2026 di Warung Tuman, BSD, Tangerang Selatan. Pameran tersebut menjadi bagian dari peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia dengan menghadirkan 81 karya kartun hasil kreativitas 21 kartunis.
Angka 81 dipilih bukan sekadar mengikuti usia kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, angka tersebut menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan tetap hidup melalui karya seni yang mampu membuat masyarakat tertawa sekaligus berpikir. Sebab, kartun bukan hanya soal kelucuan, melainkan medium yang mampu menyampaikan kritik sosial secara halus, cerdas, dan menghibur.
Beragam karya dipamerkan, mulai dari kartun gag yang memancing tawa spontan, kartun strip yang menghadirkan cerita melalui beberapa panel, hingga kartun editorial yang menyentil berbagai fenomena sosial dan kehidupan sehari-hari. Setiap goresan menghadirkan pesan bahwa humor tidak pernah kehilangan daya untuk menyampaikan kebenaran.
"Kalau dulu para pejuang mengangkat bambu runcing untuk merebut kemerdekaan, kini para kartunis mengangkat pena, kuas, atau bahkan iPad untuk menjaga semangat kemerdekaan melalui kritik dan tawa."
Di tengah masyarakat yang semakin sensitif terhadap perbedaan pendapat, kartun justru mengajarkan pentingnya kemampuan menertawakan diri sendiri. Bangsa yang masih mampu tersenyum atas kekurangannya adalah bangsa yang memiliki kedewasaan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Empat Dekade Menjadi Kawah Candradimuka Kartunis Indonesia
KOKKANG merupakan salah satu komunitas kartunis tertua di Indonesia yang lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Komunitas ini didirikan oleh Darminto M. Sudarmo dan Itos Boedy Santoso sebagai ruang bagi para kartunis untuk berkarya, bertukar gagasan, serta memperkenalkan kartun sebagai media humor, pendidikan, dan kritik sosial.
Perjalanan panjang KOKKANG dimulai pada 1982 melalui penyelenggaraan pameran kartun pertamanya di Pendopo Kawedanan Kaliwungu. Sejak saat itu, komunitas tersebut terus aktif menggelar berbagai pameran dan kegiatan seni yang melahirkan banyak kartunis berbakat.
Pada masa kejayaannya di era 1990-an, KOKKANG memiliki sekitar 50 anggota. Kini jumlahnya sekitar 25 orang, namun semangat berkarya tidak pernah surut. Berbagai pameran, diskusi, dan kegiatan komunitas terus digelar sebagai upaya menjaga eksistensi seni kartun di Indonesia.
Nama KOKKANG juga dikenal sebagai salah satu "kawah candradimuka" kartunis Indonesia. Banyak anggotanya kemudian berkiprah di media massa nasional, di antaranya M. Syaifuddin Ifoed (Indopos), Wawan Bastian (Erakini.id), M. Nasir (Tabloid BOLA), M. Najib (Majalah HumOr), M. Qomarudin (Rakyat Merdeka), Tyok (Media Indonesia), Tahyudin Tyud (Koran SINDO), Joko Susilo (Suara Merdeka), Wahyu Widodo (Jawa Pos), hingga Muktafin (Rakyat Merdeka).
Pemilihan Warung Tuman sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Tempat tersebut diharapkan menjadi ruang bertemunya seni, budaya, dan masyarakat dalam suasana yang santai. Pengunjung dapat menikmati secangkir kopi sembari menyaksikan karya-karya kartun yang menghibur sekaligus menyentil berbagai realitas kehidupan.
Siapa tahu, awalnya hanya berniat menikmati kopi, tetapi justru pulang membawa perspektif baru setelah membaca kritik sosial yang tersaji lewat gambar-gambar sederhana.
Melalui pameran ini, KOKKANG berharap seni kartun semakin dikenal dan diapresiasi masyarakat, khususnya di Tangerang Selatan dan Provinsi Banten. Sebab, kartun merupakan bahasa visual yang mampu menyampaikan gagasan besar dengan cara yang ringan, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selama lebih dari empat dekade, KOKKANG terus membuktikan bahwa kartun tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi saksi perjalanan zaman, ruang menyampaikan kritik secara elegan, sekaligus media untuk merawat optimisme di tengah berbagai dinamika kehidupan.
Panitia turut menyampaikan apresiasi kepada Warung Tuman yang telah menyediakan ruang serta mendukung terselenggaranya pameran tersebut. Kolaborasi itu menjadi bukti bahwa secangkir kopi, selembar kartun, dan seulas tawa mampu menjadi cara sederhana namun bermakna dalam merayakan kemerdekaan Indonesia.
Karena sejatinya, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, melainkan juga tentang menjaga kebebasan berpikir, berekspresi, dan tersenyum. Di situlah kartun menemukan perannya: membuat orang tertawa, mengajak mereka berpikir, lalu pulang dengan membawa makna.