Search

Puisi-Puisi Deska Setia Perdana

Akhir hari kukencani hujan

Pada hampir kering rerumputan akan bejibun embun
Aku masih tak punya persiapan perasaan apapun tentangnya
Sekejap rinai itu hampa sesisa debur basah membasuh
Hujan hampir tak lagi datang
Dan mendung yang sepertinya hanya magang di hari siang.
Di kesekian langit yang berwarna, pelangi itu telah menjelma kue
Hari ini aku benar-benar menuang ingatan pada basah bibir air
Di sangrai sungai, dedaunan menumis begitu renyah ia jadi bebunyian.
Sebelum aku memandang hampa jendela
Dan langit menunaikan kemaraunya.

15.03.2013  


Hujan mencari jalan

Entah berpulang atau berpaling.
Engkau sibuk menghambur, menjelma.
Bertualang mencari muara.
Duhai langit, dengan segala rupa musababnya daripadamu.
Kemarau berarti masa penjara. Tiada bumi daripada engkau.
...
Mula gerimis, engkau riwis.
Bersitumbuh, bersitubuh di puncak gunung. Bermain dengan angin. Mencari payau, mencari danau.
Danau mencari hulu, hulu mencari hilir. Mencari akhir.
Batang-batang sungai teduh, kau turun bagai peluh. Menjelma. Bejibun. Melulu. Begitu saja.
...
Daratan. Aku berjalan di atas air. Daripadamu yang bejibun itu.
Hujan, pulanglah.

02.02.2014

​​​​​​​Amar hujan daripada orang-orang yang sedang demam

Langit menaruh rintiknya kepada bumi. Betapapun segera atau perlahan. Basah jua tubuh ini.
Hujan datang tanpa apa tanpa siapa.
Tanpa rindu, tanpa kamu.

18.12.2014

 


​​​​​​​Deska Setia Perdana
Lahir di Pati, Jawa Tengah.
Semasa kuliah aktif di UKM KIAS (Kajian Ilmu Apresiasi Sastra) Universitas PGRI Semarang.
Beberapa Puisinya sudah terbit di beberapa media cetak dan antologi.
Sekarang lebih aktif menjalani proses kreatif bermusik di Biscuittime dan Produser Musik di Menjelma Studio.