Menengok Kembali Persaudaraan NU dan Muhammadiyah
Eddy Aqdhiwijaya
Eddy Aqdhiwijaya
Filantropis dan Pegiat Studi Humaniora, Keagamaan dan Kepemudaan
Judul dalam tulisan sederhana ini, adalah upaya untuk mengajak kita menoleh sejenak ke belakang—bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk menjemput kembali kebijaksanaan yang mungkin sempat tertutup debu sejarah.
Selama ini, narasi yang berkembang di akar rumput terkadang terlalu bising oleh perdebatan furu’iyah yang tak berujung. Kita sering lupa bahwa di balik perbedaan teknis, terdapat akar sejarah yang satu, guru-guru yang sama, dan cita-cita yang sebangun yaitu menjaga agama dan merawat bangsa.
Kita perlu menelusuri kembali jejak-jejak harmoni yang telah diletakkan oleh para pendahulu kita, kita ingat tentang bagaimana KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari pernah berbagi bilik santri di bawah asuhan guru yang sama di Makkah.
Pada akhir abad ke-19, keduanya menimba ilmu kepada guru yang sama, yaitu Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam besar di Masjidil Haram. Karena belajar di bawah asuhan guru yang sama, mereka memiliki sanad ilmu yang bertemu di satu titik.
Di masa muda, mereka tidak hanya berbagi kitab, tetapi juga berbagi gagasan tentang bagaimana membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan dan kebodohan. Sebuah ikatan spiritual yang lebih kuat dari sekadar organisasi.
Meskipun mereka memimpin dua organisasi besar yang sering dianggap berseberangan secara tradisi, secara personal mereka sangat akrab. KH. Hasyim Asy’ari yang lebih muda (lahir 1871) memanggil dengan sebutan (Kakak). Dan KH. Ahmad Dahlan (lahir 1868) memanggil KH. Hasyim dengan sebutan (Adik).

















