Puisi-Puisi Mohammad Azzam
Mohammad Azzam
Nestapa di balik Ibu Kota
Di bibir kota ia mengenang kekejaman
Melayarkan tawa pada perahu kertas yang hanyut pelan pelan,
Mengikuti arus, terapung-apung di atas air mata dan keringat haring ibu kota
Lelaki itu duduk sejenak
Pakaiannya lusuh dan berdecak merah
Namun bukan darah miliknya,
entah milik siapa ia tak tahu
Di kota itu, ia dibuat buta
Sejenak, ia akan berjalan lagi
Menyisir sepanjang sungai di bibir kota, membersihkan limbah kehidupan
Memastikan perahu putih itu sampai pada muaranya
Aku menyaksikan dari gedung nan tinggi
Di balik tirai kehormatan
Lelaki itu bekerja lagi
Pekerjaan yang ia tak tahu untuk siapa
Malam Panjang Seorang Santri
Ia tak pernah selesai mengeja diri Mu sepanjang malam
Engkau terus mengalir dari dalam dada
Bergemuruh hingga fajar pertama menyingsing
Dan cahaya-Mu menyatu bersama bintang-bintang
Menerangi negeri yang mulai meredup
Detik-detik berdetak
Mengitung sisa usia sang raja
Santri kecil khusuk di malam musim pancaroba
Menggebukan wirid kepada yang tak pernah selesai ia sebut namanya
Segelas air putih tumpah
Mengalir dari mata sang Kiai
Dibasuhnya mulut yang masih saja terbata
Santri kecil menatap sajadah kumal
Kepada Mu ia mengadu tentang negeri ini
Tentang ratapan sang Kiai
Tentang musim yang akan berganti
Kekasih yang Hilang
Separuh kehidupan telah aku persembahkan untukmu
Meniti tiap detik yang jatuh memecah riuh
Hanyut menuju muara tak bertepi
Kasih ialah kisah yang engkau janjikan, kekasih…
berkelana sepanjang jarak tak pernah kutemui sejatinya
hingga lelah menuntun ke dalam hening
ke dalam ruang paling sunyi di mana detakpun tak kudengar lagi
Di keheningan itu, lalu sayup kudengar nyanyian
mengalir lembut bersama darah dalam nadiku


















