Fluminense membuat kejutan di Piala Dunia Antarklub 2025 setelah menyingkirkan Inter Milan. Bintang utama kemenangan tim berjuluk Tricolor itu adalah Jhon Arias. Foto: FIFA.com
Nama Jhon Arias sudah menjadi sorotan ketika membawa timnya melaju ke babak 16 besar. Kini, namanya semakin diperbicangkan lewat performa luar biasa saat mengalahkan finalis Liga Champions UEFA, Inter Milan.
Dalam laga babak 16 besar yang digelar di Bank of America Stadium, Charlotte, Senin (1/7) dini hari, Arias menjadi aktor penting di balik gol pembuka German Ezequiel Cano lewat assist briliannya.
Pemain berusia 27 tahun itu pun kembali dinobatkan sebagai Superior Player of the Match untuk yang ketiga kalinya di turnamen ini.
“Saya sangat senang, senang bisa lolos, senang atas penghargaan ini yang merupakan hasil dari kerja keras,” ujar Arias kepada FIFA.com.
“Kami bermain sangat baik. Kami menghadapi tim besar seperti Inter, kekuatan dunia. Kami pulang dengan tiket penting ke babak berikutnya. Ini penting untuk klub, Brasil, dan Amerika Selatan. Sekarang saatnya menikmatinya bersama keluarga dan para pendukung, karena ini hadiah untuk semuanya,” lanjutnya.
Jhon Arias lahir di Quibdo, salah satu wilayah termiskin di Kolombia, pada 21 September 1997. Perjuangannya untuk menjadi pesepakbola profesional penuh dengan tantangan.
Ia pernah ingin meninggalkan dunia sepak bola demi mengejar karier di bidang kedokteran. Namun, kecintaannya pada olahraga ini, terutama karena terinspirasi oleh bintang Brasil, Ricardo Kaka, membuatnya bertahan.
“Ketika saya kecil, saya selalu berkata, saya ingin seperti dia,” ucap Arias tentang idolanya, Kaka. Kini, Arias tampil di panggung yang pernah dihiasi Kaka. Dan ia bahkan mendapat pujian langsung dari sang legenda.
“Saya senang bisa menginspirasi pemain muda seperti Arias. Dia adalah pemain berbahaya yang bisa mengubah jalannya pertandingan kapan saja. Dia mencetak sejarah bersama Fluminense di Copa Libertadores, dan sekarang mengejar kejayaan di Piala Dunia Antarklub,” ujar Kaka.
Arias telah bermain penuh di semua pertandingan Fluminense di turnamen ini. Ia telah mencetak satu gol dan dua assist, serta tiga kali meraih gelar Player of the Match, yakni saat imbang 0-0 kontra Borussia Dortmund, menang 4-2 atas Ulsan HD, dan terbaru saat mengalahkan Inter Milan.
Keandalannya membuatnya menjadi pemimpin tak bersuara di lapangan, bahkan saat ia tidak memegang bola. Kini, peran Arias bukan hanya sebagai penggerak tim, tetapi sebagai tokoh utama yang bisa membalikkan keadaan.
Pelatih Fluminense, Renato ‘Gaucho’ Portaluppi, menyebut Arias sebagai salah satu pemain di sepak bola Brasil yang bisa menentukan hasil pertandingan. “Ada beberapa pemain seperti itu, dan Arias adalah salah satunya,” ucapnya.
Musim ini, Arias total telah mencatat 14 assist dalam 32 pertandingan, hanya terpaut tiga dari rekor terbaik pribadinya yaitu 17 assist pada musim 2022 dan 2023. Ia kini menempati peringkat kedua pencetak assist terbanyak Fluminense abad ke-21 dengan total 56 assist, hanya kalah dari Darío Conca (71 assist).
Pele Kolombia yang Merendah
Arias juga sudah mencetak gol di semua kompetisi resmi yang diikuti Fluminense musim ini, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih sebelumnya dalam sejarah klub. Popularitasnya di kalangan fans Fluminense begitu tinggi hingga mereka menjulukinya sebagai “Pele Kolombia”.
Namun Arias merespons dengan rendah hati. “Tidak, tidak, kamu bercanda, ya? Jauh sekali! Pele adalah salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Tidak ada yang bisa menandingi dia," katanya.
"Sebagai orang Kolombia, saya tahu betapa dihormatinya Pele di Kolombia dan seluruh dunia. Julukan itu terlalu berlebihan, saya anggap itu hanya candaan,” lanjutnya sambil tertawa.
Meskipun demikian, pencapaian Arias kini jauh melampaui impiannya saat kecil di Quibdo, ketika ia hanya bisa menyaksikan Kaka bermain di AC Milan dan Real Madrid .
Arias masih berkesempatan membuat kejutan-kejutan lagi mengingat timnya lolos ke babak 8 besar. Menarik menanti aksi Arias selenjutnya di lapangan hijau.