Search

Rupiah Melemah Selasa Siang ke Level Rp17.503 per Dolar AS, Dipicu Konflik Selat Hormuz

JAKARTA, (ERAKINI) - Nilai tukar rupiah tertekan hingga menyentuh Rp17.503 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026) siang, melemah 89 poin atau 0,51 persen dari penutupan sebelumnya Rp17.414. 

Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Selat Hormuz yang kembali memanaskan pasar global, sekaligus mendorong penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang telah berakhir.

“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai oleh Trump,” kata Ibrahim.

Ia menjelaskan, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran. Penolakan tersebut memicu serangkaian insiden dan serangan kecil antarkapal di kawasan Selat Hormuz.

Selain itu, keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA) dalam konflik disebut turut memperburuk situasi, termasuk dugaan serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.

“Uni Emirat Arab sampai saat ini juga terus melakukan penyerangan walaupun tidak diekspos secara internasional. Ini mengindikasikan adanya eskalasi baru di kawasan,” ujar Ibrahim.

Menurut dia, konflik Timur Tengah membuat indeks dolar AS menguat cukup signifikan dan berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia, terutama Brent crude oil.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat menopang penguatan rupiah.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi investasi masih relatif kecil.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama cukup tinggi, dampak kekacauan di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz, tetap menjadi ancaman tersendiri bagi Indonesia,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya. Selama Januari-April 2026, sekitar 40 ribu pekerja di sektor manufaktur tekstil, garmen, dan elektronik terkena PHK.

Ibrahim memperkirakan angka PHK masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Selain itu, dominasi pekerja di sektor informal turut menjadi sentimen negatif bagi pasar. Saat ini jumlah pekerja informal mencapai 87,74 juta orang, lebih tinggi dibandingkan pekerja formal.

Pasar juga tengah menanti hasil peninjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menurunkan peringkat saham Indonesia.

Dengan berbagai tekanan eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah, namun diprediksi tidak menembus level Rp17.550 per dolar AS.