Search

Israel Masih Terus Serang Gaza, Krisis Kemanusiaan Kian Memburuk

JAKARTA, (ERAKINI) — Serangan udara yang dilancarkan Israel kembali memakan korban jiwa di Jalur Gaza. Sedikitnya lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, tewas setelah serangan terbaru menghantam sekelompok warga sipil di wilayah utara Gaza.

Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan, serangan tersebut terjadi di sekitar Masjid Al-Qassam, Beit Lahia. “Lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan warga sipil,” ujar pejabat kesehatan setempat, dilansir Al Jazeera, Kamis (23/4/2026).

Seluruh jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Namun, hingga kini belum ada rincian usia anak-anak yang menjadi korban.

Di tengah eskalasi kekerasan, Kantor Media Pemerintah Gaza menuding Israel telah melakukan sedikitnya 2.400 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang disepakati dengan Hamas sejak Oktober lalu.

Pelanggaran tersebut mencakup serangan militer, penangkapan warga, blokade bantuan, hingga dugaan kebijakan kelaparan paksa terhadap penduduk Gaza.

Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 786 warga Palestina tetap tewas akibat serangan Israel.

Sebanyak 32 korban terjadi hanya dalam bulan ini. Salah satunya adalah jurnalis Al Jazeera, Mohammed Wishah, yang tewas dalam serangan drone pada 8 April di wilayah barat Kota Gaza.

Anak-anak Jadi Korban Terbesar
Laporan Save the Children mengungkapkan dampak paling tragis dari konflik ini dirasakan oleh anak-anak. Lebih dari 20.000 anak dilaporkan tewas dalam dua tahun terakhir.

Organisasi tersebut mencatat, rata-rata satu anak meninggal setiap jam. Lebih dari 1.000 korban bahkan masih berusia di bawah satu tahun. Ribuan lainnya mengalami luka serius, trauma psikologis, hingga terpisah dari keluarga.

Situasi ini sebelumnya telah digambarkan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, sebagai “kuburan bagi anak-anak” sejak November 2023.

Laporan terbaru dari UN Women menunjukkan bahwa perempuan dan anak perempuan juga menjadi kelompok paling terdampak. Sedikitnya 47 perempuan dan anak perempuan tewas setiap hari selama konflik berlangsung.

Total korban dari kelompok ini mencapai lebih dari 38.000 jiwa sejak Oktober 2023 hingga Desember 2025, termasuk 22.000 perempuan dan 16.000 anak perempuan.

“Korban yang tewas adalah ibu, anak perempuan, saudara, dan sahabat—mereka memiliki peran penting dalam keluarga dan komunitas,” kata Kepala Aksi Kemanusiaan UN Women, Sofia Calltorp. Ia menegaskan penderitaan terus berlangsung meski ada klaim gencatan senjata.

Selain serangan militer, Israel juga dituduh membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Pembatasan tersebut mencakup makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, hingga bahan bangunan untuk tempat tinggal.

Akibatnya, sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk 1,5 juta pengungsi, hidup dalam kondisi yang semakin memprihatinkan, dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.