LONDON, (ERAKINI) – Nama Mojtaba Khamenei kini menjadi pusat perhatian dunia setelah ia dipilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Penetapan tersebut dilakukan oleh Assembly of Experts, lembaga ulama yang berwenang menentukan pemimpin tertinggi di Republik Islam.
Keputusan itu muncul di tengah situasi yang sangat tegang. Iran sedang menghadapi konflik besar melawan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel, sehingga pergantian kepemimpinan ini dipandang sebagai momen krusial bagi masa depan negara tersebut. Berikut ini profil Mojtaba Khamenei!
Putra Revolusi yang Tumbuh di Tengah Pergolakan
Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di kota suci Mashhad, satu dekade sebelum pecahnya Iranian Revolution yang membawa Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan.
Ketika masih muda, Mojtaba turut merasakan langsung kerasnya konflik regional. Ia tercatat pernah bertugas dalam perang besar antara Iran dan Irak, yaitu Iran–Iraq War, sebuah konflik berdarah melawan rezim Saddam Hussein. Dalam perang tersebut ia menjadi bagian dari batalion elit Habib ibn Mazahir al-Asadi, unit yang dikenal memiliki kedekatan dengan struktur ideologis militer Iran.
Pengalaman perang itu dinilai banyak pengamat sebagai faktor penting yang membentuk karakter politiknya sekaligus memperkuat hubungan dengan elite keamanan negara.
Kedekatan dengan Garda Revolusi
Salah satu kekuatan politik Mojtaba terletak pada jaringan hubungannya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), lembaga militer ideologis yang memegang pengaruh besar dalam sistem politik Iran.
Pengamat Timur Tengah, termasuk akademisi seperti Vali Nasr dari Johns Hopkins University, menilai bahwa kombinasi antara hubungan keluarga, pengalaman militer, dan jaringan keamanan membuat Mojtaba memiliki posisi yang kuat dalam struktur kekuasaan Republik Islam.
Dari Ulama di Qom ke Lingkaran Inti Kekuasaan
Pada akhir 1990-an, Mojtaba pindah ke kota religius Qom untuk mendalami studi keagamaan. Di sana ia belajar di bawah bimbingan ulama konservatif terkenal, Mohammad Taqi Mesbah-Yazdi.
Setelah menempuh pendidikan agama, ia kembali ke Teheran dan mulai berperan aktif di kantor kepemimpinan ayahnya. Dalam waktu relatif singkat, Mojtaba menjadi figur penting di balik layar yang terlibat dalam berbagai keputusan strategis negara.
Laporan dari lembaga riset internasional seperti Chatham House menyebutkan bahwa Ali Khamenei secara bertahap melatih putranya untuk mengelola jaringan kekuasaan di kantor pemimpin tertinggi.
Peran dalam Politik Nasional Iran
Selain aktivitas keagamaan dan pemerintahan, Mojtaba juga memiliki rekam jejak dalam dinamika politik Iran. Ia diketahui terlibat dalam dukungan politik terhadap mantan presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, khususnya dalam pemilihan presiden tahun 2005 dan 2009.
Pemilu 2009 sendiri memicu gelombang demonstrasi besar di Iran, yang kemudian dikenal sebagai Iranian Green Movement. Sejumlah pengamat menyebut Mojtaba memainkan peran penting dalam lingkaran pengambil keputusan selama periode tersebut.
Figur Berpengaruh yang Lama Bekerja di Balik Layar
Meski tidak sering tampil di panggung internasional, Mojtaba dikenal sebagai figur yang memiliki pengaruh signifikan di balik layar. Banyak analis menggambarkannya sebagai salah satu tokoh paling kuat dalam struktur internal Republik Islam sebelum ia resmi naik ke posisi tertinggi. Reputasinya sebagai tokoh garis keras juga dinilai selaras dengan situasi Iran saat ini yang menghadapi tekanan geopolitik besar serta meningkatnya kehadiran militer asing di kawasan.
Dengan pengalaman panjang di lingkaran kekuasaan, jaringan kuat dengan institusi keamanan, serta legitimasi dari lembaga ulama negara, Mojtaba Khamenei kini memasuki babak baru sebagai pemimpin tertinggi Iran—sebuah posisi yang akan sangat menentukan arah politik, keamanan, dan masa depan Republik Islam di tengah gejolak regional.