Search

Selat Hormuz Masih Terblokade, Arab Saudi Was-was Harga Minyak Dunia Tembus USD180 per Barel

JAKARTA, (ERAKINI) – Arab Saudi memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak hingga USD180 per barel jika gangguan di jalur distribusi utama, Selat Hormuz, terus berlanjut. Perang AS-Israel dan Iran semakin berdampak serius pada pasar energi global.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia akan semakin menekan APBN 2026 untuk menyubsidi harga Pertalite. Dalam asumsi makro APBN 2026, harga minyak dunia hanya dipatok di kisaran USD70 per barel. 

Dilansir Al Jazeera, Jumat (20/3/2026), para pejabat Arab Saudi menilai harga minyak berpotensi menembus USD180 per barel apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung hingga akhir April. Laporan The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah sumber menyebutkan kekhawatiran tersebut semakin meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan.

Sejak perang pecah pada 28 Februari, harga minyak bergerak sangat fluktuatif. Minyak mentah Brent bahkan sempat mendekati USD119 per barel sebelum kembali terkoreksi.

Pakar kebijakan luar negeri Arab Saudi dari King Faisal Centre for Research and Islamic Studies di Riyadh, Umer Karim, mengatakan harga minyak di kisaran USD150 per barel masih sangat mungkin terjadi, tergantung perkembangan situasi.

Ia menegaskan bahwa potensi lonjakan harga akan semakin besar jika gangguan meluas ke wilayah Laut Merah. “Jika terminal di Laut Merah diserang atau terjadi hambatan distribusi, harga di atas USD150 sangat mungkin terjadi. Saat ini, jalur tersebut menjadi koneksi vital antara Eropa dan Asia,” ujarnya.

Arab Saudi sejauh ini masih mampu menjaga ekspor minyak melalui fasilitas pelabuhan Yanbu di Laut Merah yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer dari kawasan Teluk. Namun, analis mengingatkan pelabuhan tersebut berisiko menjadi target serangan, mengingat infrastruktur energi di kawasan telah disasar oleh Iran dan Israel.

Iran sebelumnya menegaskan tidak akan mengizinkan minyak apa pun yang menguntungkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya melintasi Selat Hormuz, seiring berlanjutnya agresi AS-Israel terhadap negaranya.

“Kami tidak akan mengizinkan bahkan satu liter minyak pun melewati Selat Hormuz untuk kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya,” kata juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, dilansir kantor berita Tasnim.

Ia menegaskan bahwa setiap kapal yang kepemilikan atau muatan minyaknya terkait dengan Amerika Serikat, rezim Zionis, atau mitra mereka yang dianggap bermusuhan akan menjadi target sah bagi angkatan bersenjata Iran.

Ancaman Serangan Energi Meningkat
Di sisi lain, Iran memperingatkan akan meningkatkan serangan jika fasilitas energinya kembali menjadi sasaran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut negaranya baru menggunakan “sebagian kecil” kekuatan militernya dalam serangan terhadap infrastruktur energi regional.

Pernyataan itu muncul setelah Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran. Teheran menegaskan tidak akan menahan diri jika serangan serupa kembali terjadi.

Serangan Iran terhadap fasilitas gas Ras Laffan di Qatar diperkirakan memangkas kapasitas ekspor LNG hingga 17 persen. Kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan energi ke Eropa dan Asia.

Sementara itu, Amerika Serikat melalui Departemen Pertahanan mengajukan anggaran sebesar USD200 miliar kepada Kongres untuk mendukung operasi militer melawan Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan operasi tersebut belum memiliki batas waktu yang jelas.