Atasi Krisis Air dan Banjir, Wagub Taj Yasin Andalkan Rorak untuk Pulihkan Ekologi Gunung Muria
Hendrati Hapsari
SEMARANG, (ERAKINI) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah taktis untuk mengatasi ancaman banjir dan kekeringan di kawasan Gunung Muria.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengatakan, menggalakkan pembangunan rorak atau lubang resapan air sebagai solusi jangka pendek pemulihan ekologi. Langkah ini menyusul puluhan titik mata air yang mulai mengering akibat alih fungsi hutan.
“Infrastruktur sederhana ini diharapkan mampu menahan limpasan air hujan agar tidak langsung mengalir ke wilayah hilir, sekaligus meningkatkan peresapan air ke dalam tanah untuk membantu menjaga ketersediaan sumber mata air,” kata dia, saat berdiskusi dengan Komunitas Pegiat Konservasi Alam (Peka) Muria di Desa Colo, Kabupaten Kudus, Rabu (4/11/2026).
Ia menyoroti dampak kerusakan kawasan Gunung Muria terhadap tiga kabupaten penyangga, yakni Kudus, Jepara dan Pati.
Dalam dua tahun terakhir, wilayah tersebut mengalami sejumlah kejadian banjir hingga longsor. Gunung Muria memiliki 11 aliran sungai yang berperan penting bagi kawasan di sekitarnya.
Menurut Taj Yasin, upaya konservasi perlu dilakukan untuk memperlambat aliran air dari kawasan hulu sekaligus menjaga keberlangsungan sumber mata air.
“Kenapa saya minta untuk bikin rorak, supaya airnya tidak langsung ke bawah. Otomatis sumber-sumber air yang sudah ada akan terisi. Ini yang perlu kita sosialisasikan kepada masyarakat,” katanya.
Ketua Peka Muria, Teguh Budi Wiyono mengungkapkan, kondisi hutan di kawasan Muria menjadi keprihatinan masyarakat.
“Sebab, sejumlah kawasan telah beralih fungsi menjadi kebun kopi,” terang dia.
Padahal, kata dia, Gunung Muria menjadi habitat berbagai satwa dilindungi, seperti macan tutul dan elang Jawa. Kawasan tersebut juga memiliki sekitar 120 jenis burung serta sejumlah pohon langka dan mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Harapan kami, dengan adanya Surat Keputusan (SK) Taman Hutan Raya (Tahura), hutan kembali terjaga, Kami titip supaya ekologi, ekonomi, dan hidrologi di Muria tetap terjaga,” ujar Teguh.
Ia menyebut, dari 116 titik mata air yang telah didata komunitasnya, hampir 80 persen di antaranya mengalami kondisi kering atau mati.
Teguh berharap, penetapan Gunung Muria sebagai Tahura dapat menjadi momentum pemulihan kawasan tanpa mengabaikan kehidupan masyarakat yang selama ini menggantungkan ekonomi dari aktivitas pertanian.
“Dialog langsung dengan pemerintah menjadi ruang penting bagi komunitas untuk menyampaikan aspirasi,” kata dia.















