Menag Minta PTKIN Kembangkan Teknologi Hilirisasi, Raih Kembali Kejayaan Ilmu Islam
Thomas Pulungan
YOGYAKARTA, (ERAKINI) --- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan penguasaan sains dan teknologi menjadi kunci kemajuan umat Islam. Ia meminta perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) melahirkan ilmuwan yang mampu mengembangkan pengetahuan, menjawab persoalan masyarakat, serta menjaga tanggung jawab moral dalam penggunaan teknologi.
Pesan itu disampaikan Menag saat membuka Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (4/11/2026). Ajang ini mempertemukan mahasiswa dari 54 PTKIN untuk berkompetisi, bertukar gagasan, dan mengembangkan jejaring akademik dalam bidang agama, sains, dan riset.
“Kalau kita ingin meraih kembali kejayaan ilmu dalam sejarah Islam, kita harus menguasai ilmu pengetahuan. Penguasaan sains dan teknologi sangat penting,” tegas Nasaruddin.
Menurut Menag, sejarah keilmuan Islam memperlihatkan hubungan erat antara kedalaman pemahaman agama, penelitian, dan pengembangan teknologi. Para ilmuwan mengembangkan pengetahuan dengan mengamati kebutuhan kehidupan, mulai dari penyediaan air hingga pelayanan kesehatan.
Tradisi tersebut perlu dihidupkan di kampus melalui keberanian bertanya, ketekunan meneliti, dan kemampuan mengubah pengetahuan menjadi manfaat.
“Kita perlu terus membangun tradisi bertanya, meneliti, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat,” ujarnya.
Nasaruddin juga menyoroti peluang keterlibatan PTKIN dalam pengembangan teknologi hilirisasi. Menurutnya, perguruan tinggi keagamaan memiliki ruang untuk membantu meningkatkan nilai tambah sumber daya yang dimiliki Indonesia.
“UIN dan perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama perlu berperan dalam pengembangan teknologi hilirisasi tersebut, tentu bersama perguruan tinggi umum juga,” katanya.
Melalui OASE, Menag berharap temuan mahasiswa terus disempurnakan hingga mampu menjadi kebanggaan bangsa dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan sains.
Menag juga mengingatkan bahwa kemampuan teknologi harus disertai bimbingan nilai dan tanggung jawab. Perkembangan kecerdasan buatan perlu mendapat perhatian serius agar pemanfaatannya membawa kebaikan bagi kehidupan.
“Jangan sampai ilmu pengetahuan berkembang tanpa bimbingan nilai dan tanggung jawab. Kemampuan yang besar dapat membawa akibat yang merusak apabila digunakan dengan cara yang salah,” pesannya.
OASE Lahirkan Ilmuan Muslim Baru
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amien Suyitno menegaskan, OASE menjadi wadah untuk menerjemahkan integrasi ilmu ke dalam kemampuan dan karya mahasiswa. Ia berharap pembinaan talenta di PTKIN melahirkan generasi yang memiliki kedalaman agama sekaligus kecakapan mengembangkan sains.
“OASE mencita-citakan lahirnya Ibnu Sina-Ibnu Sina baru, Ibnu Rusyd-Ibnu Rusyd baru,” ungkap Suyitno.
Suyitno menjelaskan, OASE pertama kali diselenggarakan secara daring di Aceh pada 2021, kemudian berlanjut di Jakarta pada 2023. Penyelenggaraan ketiga di Yogyakarta melanjutkan penguatan wadah kompetisi dan pembinaan talenta sains serta riset mahasiswa PTKIN.
Menurut Suyitno, penyelenggaraan di UIN Sunan Kalijaga memiliki makna tersendiri karena mempertemukan talenta mahasiswa di kampus yang menunjukkan capaian dalam pemeringkatan perguruan tinggi internasional. Ia menyampaikan apresiasi atas prestasi UIN Sunan Kalijaga dalam Times Higher Education World University Rankings 2026.
Suyitno juga menyebut UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai contoh pengembangan pendidikan yang mempertemukan tradisi Ma’had Al-Jami’ah, penguasaan ilmu agama, dan sains. Suyitno juga mencontohkan UIN Raden Intan Lampung yang berkali-kali meraih penghargaan melalui pemeringkatan UI GreenMetric. Ia mengaitkan capaian tersebut dengan pengembangan kampus bercorak ekoteologi yang menjadi salah satu perhatian Menteri Agama.
Suyitno mendorong setiap PTKIN menemukan dan memperkuat kekhasannya. Keunggulan kampus dapat dikembangkan melalui reputasi riset, integrasi pendidikan agama dan sains, kepedulian lingkungan, maupun potensi lain yang sesuai dengan karakter institusi.
Ia juga meminta capaian mahasiswa ditindaklanjuti dengan pencatatan prestasi melalui kanal nasional. Langkah tersebut diperlukan agar perkembangan keilmuan PTKIN semakin dikenal masyarakat.
“Dunia harus tahu itu, dan caranya para Wakil Rektor III harus aktif mengisi aplikasi Puspresnas,” tegas Suyitno.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan menyampaikan bahwa kehadiran 54 PTKIN menunjukkan komitmen bersama dalam mengembangkan generasi yang cerdas, berintegritas, kreatif, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.
“OASE bukan sekadar ajang memperebutkan medali dan menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, OASE adalah ruang perjumpaan gagasan, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan talenta terbaik mahasiswa PTKIN,” ungkapnya.
Sebagai tuan rumah, UIN Sunan Kalijaga berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi peserta. Noorhaidi berharap OASE terus berkembang menjadi agenda akademik nasional yang berkualitas, inklusif, dan berdampak, sekaligus memperkuat pembinaan prestasi mahasiswa secara berkelanjutan.
Pembukaan dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Jajaran Pimpinan Eselon I Kementerian Agama, jajaran staf ahli dan staf khusus Menteri Agama. Hadir pula Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, para rektor dan pimpinan PTKIN, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama.
OASE III PTKIN Tahun 2026 berlangsung pada 3–7 November 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengusung tema “Tumbuh dan Berkembang Bersama Prestasi”, kegiatan ini mempertemukan 497 finalis dari 54 PTKIN yang lolos seleksi dari 1.592 peserta untuk berkompetisi dalam 18 cabang bidang agama, sains, dan riset. Rangkaian kegiatan juga menghadirkan ekspo inovasi yang melibatkan 34 PTKIN.

















