Search

Ma’had Al-Jamiah UIN Banten Ajak Mahasantri Hidupkan Nilai Turats di Era Society 5.0

SERANG, (ERAKINI) - Ma’had Al-Jamiah Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten menggelar seminar keislaman bertajuk “Menghidupkan Nilai Turats: Membangun Karakter Mahasantri di Era Society 5.0” di Gedung Pusgiwa Kampus 2, Senin (16/4/2026). Kegiatan ini dihadiri ratusan mahasantri serta mahasiswa lintas fakultas.

Dalam kesempatan itu, Rektor UIN SMH Banten, Prof KH Muhammad Ishom yang menekankan pentingnya integrasi antara khazanah keilmuan klasik Islam (turats) dengan perkembangan teknologi digital.

Menurut dia, mahasantri tidak hanya dituntut adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi juga harus memiliki fondasi tradisi keilmuan yang kuat.

“Mahasantri perlu mengakar pada turats sekaligus mampu merespons perkembangan teknologi secara bijak,” ujar Ishom dalam sambutannya.

Prof Ishom mendorong mahasantri untuk tidak berhenti pada proses belajar, tetapi mulai berkontribusi melalui karya nyata, seperti menulis buku, menyusun karya ilmiah, serta memproduksi konten edukatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Wakil Rektor III UIN SMH Banten, Dr Dedi Sunardi, mengungkapkan pentingnya penguatan kapasitas intelektual melalui tradisi literasi Islam yang mendalam. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi secara etis, termasuk dalam mengakses literatur primer melalui aplikasi seperti Maktabah Syamilah.

Menurut Dedi, mahasantri perlu mengombinasikan penelusuran kitab kuning dengan database jurnal global guna memperkuat validitas akademik. Namun, ia mengingatkan adanya ancaman pendangkalan intelektual di era digital akibat kecenderungan mengandalkan sumber instan seperti mesin pencari dan platform video.

“Fenomena instanisme ini harus diwaspadai karena dapat melemahkan tradisi keilmuan yang mendalam,” kata dia.

Sementara itu, Narasumber utama, Abdul Muiz Ashaf menyoroti dedikasi ulama klasik dalam membangun disiplin ilmu yang terstruktur. Ia menilai, meskipun akses informasi kini semakin cepat, struktur berpikir dalam turats tetap memiliki keunggulan.

“Dalam turats, kita tidak hanya belajar agama, tetapi juga menemukan fondasi sains, teknologi, sosial, hingga sastra yang kompleks,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Ma’had Al-Jamiah, Ahmad Muchlishon, mengibaratkan turats sebagai akar yang menopang pohon peradaban.

Menurut dia, meski tidak selalu tampak, turats menjadi fondasi utama yang melahirkan perkembangan ilmu pengetahuan. Dia menegaskan, di era Society 5.0, mahasantri harus mampu menyinergikan nilai-nilai turats dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan identitas keislaman.

“Mahasantri tidak bisa memilih salah satu, tetapi harus memadukan keduanya,” kata Muchlishon.