Ie Bu Peudah merupakan kuliner khas Kabupaten Aceh Besar yang hanya ada saat bulan Ramadan. Masakan peninggalan masa Kerajaan Aceh Darussalam ini masih terus dilestarikan masyarakat, khususnya di Aceh Besar.
Ie Bu Peudah merupakan makanan tradisional yang diolah dari campuran aneka rempah dan daun-daunan pilihan. Hidangan ini dibuat dari beras yang dimasak bersama kelapa parut dan bumbu seperti lada, kunyit, lengkuas, bawang putih, serta jahe. Cita rasanya yang pedas menjadi ciri khas utama.
Ie Bu Peudah biasanya dikonsumsi pada momen tertentu, terutama saat bulan Ramadan. Selain sebagai takjil berbuka puasa, hidangan ini juga menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Aceh dalam memanfaatkan kekayaan alam hutan sebagai sumber pangan dan obat tradisional.
Bahkan berapa daerah di Aceh Besar, setiap memasuki bulan Ramadan masyarakat setempat membentuk panitia khusus yang bertugas memasak Ie Bu Peudah. Mereka akan bekerja selama satu bulan penuh dan diberikan honorer ala kadarnya.
Proses memasak Ie Bu Peuda biasanya dimulai sekitar pukul 14.00 WIB hingga menjelang 16.00 WIB. Setelah salat Asar warga setempat mulai berbondong-bondong datang ke masjid untuk mengambil kuliner tersebut.
Lebih dari sekadar makanan, Ie Bu Peudah adalah warisan kuliner yang mencerminkan kekayaan rempah Nusantara sekaligus tradisi turun-temurun yang tetap lestari hingga kini.
Asal Usul Ie Bu Peudah
Nama “Ie Bu Peudah” sendiri berasal dari bahasa Aceh yang berarti “air nasi pedas”. Rasa pedas tersebut berasal dari dominasi lada dan jahe dalam racikan bumbunya.
Sekilas, Ie Bu Peudah menyerupai bubur kanji rumbi atau bubur ayam. Namun yang membedakannya adalah kompleksitas rasa dan aroma rempah yang kuat. Selain pedas, terdapat sentuhan rasa manis dan asin dengan aroma yang sangat khas.
Teksturnya lembut seperti bubur nasi, sehingga nyaman dikonsumsi saat berbuka puasa. Ramuan dedaunan yang berpadu dengan jahe, kunyit, dan lada dipercaya mampu menghangatkan tubuh, menyegarkan, serta mengembalikan stamina setelah seharian berpuasa.
Tak hanya itu, masyarakat setempat juga meyakini Ie Bu Peudah dapat membantu meredakan masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Keunikan Ie Bu Peudah terletak pada jumlah dan jenis rempah yang digunakan. Dalam proses pembuatannya, terdapat sekitar 44 jenis rempah dan dedaunan, bahkan lebih dari 45 spesies tumbuhan dimanfaatkan, dengan sekitar 40 di antaranya menggunakan bagian daun.
Rempah-rempah tersebut terdiri dari daun, biji, dan buah yang sebagian besar dikeringkan terlebih dahulu sebelum dihaluskan menjadi bubuk. Bumbu kering ini dapat disimpan dalam jangka waktu lama, bahkan hingga satu sampai dua tahun.
Empat jenis daun utama yang wajib ada dalam Ie Bu Peudah, yaitu:
1. Daun Tahe Peuha (Leuconitis eugenifolus)
2. Daun Nekuet (Ligustrum glomeratum)
3. Daun Teumpheung (Antidesma ghaesembilla)
4. Daun Saga (Abrus precatorius)
Keempat daun ini tergolong langka karena hanya dapat ditemukan di hutan rimba. Inilah yang membuat Ie Bu Peudah menjadi kuliner spesial dan tidak mudah direplikasi di luar daerah asalnya.
Kaya Senyawa Bioaktif Ie Bu Peudah dikenal memiliki kandungan zat bioaktif yang tinggi dibandingkan makanan khas lainnya. Senyawa bioaktif merupakan komponen alami pada tumbuhan, seperti polifenol, yang memiliki efek positif bagi kesehatan.
Berbagai manfaat yang dikaitkan dengan kandungan rempah dalam Ie Bu Peudah antara lain:
- Antioksidan
- Anti-tumor
- Antibiotik alami
- Anti-rematik
- Antiseptik
- Membantu penderita asma
Senyawa bioaktif tersebut dapat diekstraksi melalui proses perebusan saat memasak, sehingga khasiatnya tetap terkandung dalam sajian bubur.