SOLO, (ERAKINI) - Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Jawa Tengah menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bagi 426 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kloter. Kegiatan tersebut berlangsung di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, mulai Kamis (5/2/2026) hingga 14 Februari 2026.
Dalam diklat tersebut, Kemenhaj Jawa Tengah menegaskan bahwa para petugas kloter diminta untuk mendampingi jemaah haji secara penuh, sejak keberangkatan dari Tanah Air hingga kepulangan kembali ke Indonesia.
Kepala Kanwil Kemenhaj Jawa Tengah, H Fitriyanto, menekankan bahwa orientasi utama seluruh petugas haji adalah pelayanan kepada jemaah, bukan sekadar urusan administratif maupun kenyamanan petugas.
“Orientasi utama petugas adalah jemaah. Bukan administrasi, bukan kenyamanan petugas, dan bukan rutinitas. Layanan haji dinilai dari apa yang benar-benar diterima dan dirasakan jemaah sejak berangkat hingga kembali ke tanah air,” ujar H Fitriyanto dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).
Menurut dia, diklat tersebut menjadi titik awal pembentukan sikap dan pola kerja petugas haji. Diklat tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan syarat penugasan, melainkan sebagai proses pembekalan untuk membangun tanggung jawab penuh dalam melayani jemaah.
“Petugas haji disiapkan untuk hadir, melayani, dan bertanggung jawab penuh kepada jemaah,” katanya.
H Fitriyanto mengingatkan bahwa PPIH Kloter merupakan representasi negara di hadapan jemaah haji. Oleh karena itu, setiap ucapan, keputusan, dan tindakan petugas akan berdampak langsung terhadap persepsi jemaah terhadap negara.
“PPIH Kloter adalah wajah negara di hadapan jemaah. Dari sinilah kepercayaan dan martabat negara dipertaruhkan,” ujarnya.
Selain itu, petugas kloter juga didorong menguasai tugas sesuai fungsi masing-masing serta membangun kekompakan dalam manajemen kloter, koordinasi layanan, dan pengambilan keputusan di lapangan. Petugas dituntut memiliki keteladanan sikap, ketenangan, dan kemampuan membimbing ibadah jemaah.
H Fitriyanto kemudian menekankan pentingnya disiplin sebagai fondasi layanan haji, baik disiplin waktu, prosedur, maupun etika. Ia menegaskan tidak ada ruang bagi sikap reaktif, emosional, atau tindakan di luar koridor yang telah ditetapkan.
Berikutnya, kerja tim menjadi kunci kelancaran layanan kloter. Menurut dia, koordinasi, komunikasi, dan saling percaya antarpersonel harus terus dijaga selama pelaksanaan ibadah haji.
“Petugas juga harus memahami bahwa kondisi di lapangan sangat dinamis. Diperlukan sikap adaptif, kecepatan membaca situasi, serta keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada keselamatan dan kenyamanan jemaah,” ujarnya alumnus UIN Semarang ini.
Diketahui, 426 peserta diklat tersebut terdiri atas 106 ketua kloter, 106 pembimbing ibadah kloter, 107 dokter kloter, dan 107 perawat kloter.
Adapun fasilitator kegiatan diklat berasal dari Kemenhaj Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Semarang dan Yogyakarta, serta Kodam IV/Diponegoro.