Search

Harga Emas Dunia Turun Akibat Konflik Timur Tengah

JAKARTA, (ERAKINI) - Harga emas dunia mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir di tengah aksi jual investor serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (13/3/2026) ditutup di level 5.078,89 dollar AS per troy ons, atau turun sekitar 1,9 persen. 

Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan harga emas yang telah turun sekitar 2,2 persen dalam dua hari terakhir.

Harga tersebut juga menjadi yang terendah sejak 5 Maret 2026. Pelemahan ini membuat harga emas kembali berada di kisaran 5.000 dollar AS per troy ons setelah sebelumnya bertahan di atas 5.100 dollar AS selama empat hari berturut-turut.

Pada perdagangan Jumat (13/3/2026), harga emas tercatat mulai menguat tipis sekitar 0,25 persen ke posisi 5.091,38 dollar AS per troy ons.

Secara umum, gejolak geopolitik biasanya mendorong kenaikan harga emas karena logam mulia ini dianggap sebagai aset safe haven. Namun, kali ini kekhawatiran baru terkait inflasi membuat investor menjadi lebih berhati-hati.

Sebelumnya, harga emas sempat menguat setelah serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Saat itu harga emas sempat naik dari sekitar 5.296 dollar AS menjadi 5.423 dollar AS per troy ons.

Namun setelah itu, aksi jual terjadi dan membuat harga emas turun lebih dari 6 persen hingga menyentuh sekitar 5.085 dollar AS pada 3 Maret. Pada pekan ini, harga emas bergerak di kisaran 5.050 hingga 5.200 dollar AS per troy ons.

Chief Executive Officer Metals Daily, Ross Norman, mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan harga emas belum mampu melanjutkan penguatan. 

Di antaranya adalah penguatan dolar AS serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Norman, kenaikan harga minyak juga dapat memicu inflasi yang bertahan lebih lama sehingga berpotensi mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.

Kondisi tersebut berkaitan dengan potensi gangguan jalur pelayaran energi global di Selat Hormuz yang menjadi rute penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi pemerintah, dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.

Di sisi lain, Kepala Riset Al Ramz, Amer Halawi, mengatakan konflik geopolitik juga dapat memicu gelombang panic selling di pasar keuangan.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat menimbulkan fenomena yang disebut “flush”, yaitu situasi ketika investor terpaksa menjual aset mereka secara cepat saat harga turun.

“Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual hingga pasar kembali memahami situasi yang terjadi,” kata Halawi.

Meski volatilitas jangka pendek masih terjadi, sejumlah bank investasi tetap optimistis terhadap prospek harga emas. JPMorgan Chase memprediksi harga emas dapat mencapai sekitar 6.300 dollar AS per troy ons pada akhir 2026.

Sementara itu, Deutsche Bank mempertahankan proyeksi harga emas di kisaran 6.000 dollar AS per troy ons pada akhir tahun.