Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan melakukan intervensi di pasar off-shore guna menstabilkan kurs rupiah yang kini nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/NDF) guna menstabilkan kurs rupiah yang kini nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Kurs rupiah ini sudah jauh di atas asumsi dasar APBN 2025 sebesar Rp16.000.
"Intervensi di pasar off-shore dilakukan Bank Indonesia secara berkesinambungan di pasar Asia, Eropa, dan New York," ujar Kepala Departemen Komunikasi Ramdan BI Denny Prakoso, dalam keterangannya, Senin (7/4/2025).
Kata dia, Bank Indonesia juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan Selasa, 8 April 2025, dengan intervensi di pasar valas (Spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Selain itu, Bank Indonesia juga akan melakukan optimalisasi instrumen likuiditas rupiah untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan domestik.
"Serangkaian langkah-langkah Bank Indonesia ini ditujukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia," pungkasnya.
Diketahui, kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 2 April 2025 dan respons kebijakan retaliasi tarif China telah menimbulkan gejolak pasar keuangan global, termasuk arus modal keluar dan tingginya tekanan pelemahan nilai tukar di banyak negara, khususnya negara emerging market.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah telah terjadi di pasar off-shore di tengah libur panjang pasar domestik dalam rangka Idulfitri 1446H. Nilai tukar rupiah pun terus melemah.
Pada pembukaan perdagangan Senin (7/4/2025) pagi, kurs rupiah anjlok 251 poin atau 1,51 persen dari sebelumnya Rp16.653 menjadi Rp16.904 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh respons negatif atas kebijakan tarif resiprokal AS. Kebijakan tersebut diberlakukan terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.
"Sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump (Presiden AS Donald Trump) yang direspons negatif oleh negara-negara yang dinaikkan tarifnya menjadi pemicu utama pelemahan rupiah," ujar Ariston .
Ariston melihat pasar khawatir ekonomi global akan terpuruk akibat dampak dari perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS. Hal ini menyebabkan pelaku pasar mulai keluar dari aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman, seperti mata uang dolar AS.