Daftar 10 Bandara Tersibuk di Asia Tenggara November 2026, Soetta Merosot di Bawah Kuala Lumpur
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Posisi Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, sebagai salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara, merosot.
Dalam laporan terbaru perusahaan analisis penerbangan asal Inggris, Official Airline Guide (OAG), per 8 November 2026, Soetta turun ke peringkat keempat, setelah sebelumnya menempati posisi kedua pada Agustus dan September 2026.
Penurunan peringkat tersebut menunjukkan semakin ketatnya persaingan antarpusat penerbangan di kawasan Asia Tenggara. Kali ini, Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, berhasil menggeser Soetta dari posisi ketiga, sekaligus membuat bandara utama Indonesia itu harus puas berada di urutan keempat.
Padahal, pada Agustus dan September 2026, Soetta masih kokoh di posisi kedua. Namun, pada Oktober 2026, posisinya lebih dahulu direbut Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand, yang kemudian bertahan di peringkat kedua.
Meski kapasitas kursi penerbangan Soetta meningkat 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan kapasitas di sejumlah bandara pesaing berlangsung lebih signifikan. Kondisi tersebut membuat posisi Soetta semakin terdesak.
Sementara itu, Bandara Changi Singapura masih mempertahankan dominasinya sebagai bandara tersibuk di Asia Tenggara.
Berdasarkan laporan OAG dengan data per 8 November 2026, berikut daftar 10 bandara tersibuk di Asia Tenggara:
1. Bandara Internasional Changi (SIN), Singapura.
2. Bandara Internasional Suvarnabhumi (BKK), Thailand.
3. Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL), Malaysia.
4. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Indonesia.
5. Bandara Internasional Ninoy Aquino (MNL), Filipina.
6. Bandara Internasional Tân Sơn Nhất (SGN), Vietnam.
7. Bandara Internasional Nội Bài (HAN), Vietnam.
8. Bandara Internasional Don Mueang (DMK), Thailand.
9. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (DPS), Indonesia.
10. Bandara Internasional Phuket (HKT), Thailand.
Changi Singapura masih menjadi pemimpin dengan kapasitas mencapai 3,6 juta kursi, atau tumbuh 3,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di posisi kedua, Suvarnabhumi Bangkok mencatat kapasitas 3,4 juta kursi, meningkat 7 persen. Pertumbuhan ini semakin memperkuat posisi Bangkok sebagai salah satu pusat konektivitas penerbangan utama di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi lain, tidak semua bandara mengalami pertumbuhan kapasitas. Bandara Don Mueang Bangkok mencatat penurunan 12,1 persen, Kuala Lumpur berkurang 3,7 persen, sedangkan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, turun 2 persen.
Indonesia Masih Kuasai Pasar Penerbangan Domestik
Di tengah penurunan peringkat Soekarno-Hatta, Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai pasar penerbangan domestik terbesar di Asia Tenggara.
OAG mencatat kapasitas penerbangan domestik Indonesia mencapai 8,3 juta kursi, meningkat 0,8 persen atau bertambah sekitar 68.300 kursi.
Namun, dari sisi pertumbuhan kapasitas, Vietnam mencatat kenaikan paling besar dengan tambahan 183.400 kursi. Thailand menyusul dengan peningkatan 156.800 kursi.
Sebaliknya, Malaysia mengalami penurunan kapasitas penerbangan domestik terbesar berdasarkan volume, yakni berkurang 343.900 kursi.
Data tersebut memperlihatkan dinamika persaingan industri penerbangan Asia Tenggara. Indonesia masih unggul dari sisi besarnya pasar domestik, tetapi posisi Soekarno-Hatta sebagai salah satu gerbang utama penerbangan internasional di kawasan menghadapi tekanan dari pertumbuhan dan penguatan kapasitas bandara-bandara pesaing.

















