Anis Masykhur
Pengasuh PP Al-Ishlah 2 Bojongsari Depok
Kebijakan meng-WFA-kan sejak dini dan sampai tanggal 27 Maret bagi pegawai pemerintah dan perkantoran adalah kebijakan simbolis namun mampu mendorong pergerakan pemerataan pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. Perputaran ekonomi yang biasa terpusat di kota-kota besar bergeser ke kampung-kampung dan desa-desa yang akan berlangsung lebih dari 2 pekan.
Dengan demikian, aktivitas mudik ini diprediksikan bisa berkontribusi dalam menyolidkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2026, yang pada tahuh 2025 mencapai 5,11%.
Masyarakat mudik lebih dini tentu membawa keuntungan politik dan tentunya juga ekonomi. Fenomena mudik yang biasa menimbulkan macet berkepanjangan, tahun ini tampaknya tidak banyak terjadi. Macet berkepanjangan bisa memunculkan sumpah serapah mencaci pemegang kebijakan transportasi.
Yang tidak disadari adalah bahwa sumpah serapahpun akan menjadi doa. Memperkecil sumpah serapah berarti menyedikitkan doa keburukan. Ketika seorang netizen menyajikan perspektif “nyinyir”nya, bak bola menggelinding menjadi isu liar yang dapat memojokkan dan menumbuhkan pandangan negatif terhadap pemegang kebijakan.
Mudik tidaklah sembarang mudik. Mudik juga bisa dipahami dengan perspektif spiritual selain perspektif material.
Mudik adalah simbol sarat pesan bahwasanya setiap makhluk pasti akan mengalami “mudik”.
Ia harus ingat dari mana berasal dan ke mana harus berakhir., yang dalam bahasa "orang tua" dikenal dengan adagium “sangkan paraning dumadi”. Ia harus mengingat akar asal tumbuhnya dan akar tradisinya, sehingga dapat mengikis sifat buruknya termasuk ketakaburan, yang merupakan sumber segala penyakit. Jalaluddin Rumi menyebutnya dengan "kembali kepada Sang Sumber [AIlah]", Al-Ghazali menyebutnya dengan "kembali kepada hakikat diri dan pensucian hati."
Ia menjelaskan makna menemukan hakikat diri dengan pensucian hati adalah melepaskan ego, mengendalikan amarah, membuang keserakahan, memperbaiki diri, memaafkan dan meminta maaf. Inilah sebenarnya yang diharapkan bahwa ritual mudik ini bukanlah aktivitas yang profan, kering spiritual. Hamka dalam tasawuf modern-nya menyebut dengan sebutan "kepulangan" spiritual.
Ramadan yang telah terlewati mendidik manusia agar melakukan proses mudik spiritual ini, supaya mental spiritual kembali ke jati dirinya.
Idulfitri menjadi simbol puncak kembalinya seseorang dengan menunjukkan dirinya telah merasakan mudik spiritual, mengembalikan dirinya menjadi manusia sejati.
Dalam aktifitas mudik, biasanya diikuti dengan aktifitas silaturahmi dan saling memaafkan. Di situlah manusia harus menyadari bahwa dirinya membutuhkan orang lain supaya hidup normal. Ego sebagai makhluk super harus dihancurkan dan kembali sebagai makhluk sosial.
Setiap insan harus sadar bahwa cinta menjadi basis adanya kehidupan ini. Jika sepasang suami istri dengan cinta dapat melahirkan generasi dan kehidupan baru, begitu juga cinta anak kepada orang tuanya. Seorang yang mudik berharap dapat keuntungan spiritual, sebab dalam wajah orang tua itu ada rahmat Allah bagi yang melihatnya. Begitulah Rasul Saw bersabda. Demikian pula dengan cinta hamba dengan Tuhannya menjadikannya akan lebih shalih dalam menjaga amanatnya.
Idul Fitri adalah momentum kembalinya seseorang untuk membuktikan bahwa ia telah “berhasil” melakukan mudik, menemukan jati diri aslinya. Jika ia seorang pendidik, ia akan kembali menjadi pendidik sejati. Jika ia adalah seorang pegawai, maka ia akan kembali semangat bekerja. Jika ia seorang politisi, diharapkan dapat memperjuangkan kepentingan politik sejati, yakni kemaslahatan rakyat. Inilah yang disebut mudik cinta. Wallahu a’lam.