ATEIS
Farid Mustofa
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ada orang bangga menyebut dirinya ateis. Sebagian lagi malu-malu ragu. Di antara keduanya, ada yang percaya tapi tak tahu siapa yang dipercaya. Kita hidup di masa agama tak hanya bicara surga dan neraka, tapi bagaimana bertahan dari kekosongan makna. Ini bukan era perang antaragama, tapi zaman ‘suwung’ akibat membuang Tuhan.
Di tengah pergeseran itu muncul nama-nama yang sering dianggap wakil ateisme. Friedrich Nietzsche, Bertrand Russell, dan Richard Dawkins. Tiga tokoh ini punya reputasi masing-masing. Tapi sayangnya, mereka sering dikelompokkan dalam satu kota sama sebagai penolak Tuhan. Padahal ketiganya sangat berbeda, bukan hanya cara berpikirnya tapi juga kedalaman pencariannya.
Dawkins, misalnya. Keras, tajam, penuh data dan amarah. Bagi Dawkins Tuhan adalah kesalahan logika, dan agama virus budaya yang diwariskan tanpa filter. Kalau dunia bisa dijelaskan dengan teori evolusi untuk apa masih percaya Tuhann yang tak bisa dibuktikan? Dalam bukunya The God Delusion ia menyerang isi agama dan cara orang percaya. Tuhan, katanya, bukan hanya tidak ada tapi juga berbahaya untuk dipercaya.
Masalahnya, hanya menyerang karikatur. yang ia tembak adalah buku sekolah dasar atau dongeng ajaib yang memang mudah dipatahkan. Ia tidak menyentuh sisi terdalam pengalaman manusia yang menangis saat berdoa, merasa teduh dalam kesendirian, atau tersentuh sesuatu yang tak bisa dijelaskan. menolak seperti orang menolak puisi karena tidak bisa diuji dengan rumus fisika. Kritiknya keras tapi dangkal.



















