Berpikir Bijak Sesudah Paham Indeks Kerentanan Masyarakat Internasional
Prof Dr KH Muhammad Ishom, M.A.,
Dalam banyak percakapan hari ini, apalagi di media sosial, kita sering dengar ajakan untuk melakukan perubahan besar—bahkan revolusi—demi dunia yang lebih adil. Tapi sebelum kita meneriakkan perubahan radikal, ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian: apakah masyarakat kita—dan dunia—siap? Jawaban dari pertanyaan ini bisa kita temukan lewat yang disebut indeks kerentanan.
Indeks kerentanan adalah semacam "termometer sosial" yang mengukur seberapa kuat (atau rapuh) suatu negara menghadapi krisis. Apakah pemerintahnya stabil? Apakah masyarakatnya punya akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan? Seberapa besar ketimpangan ekonominya? Semua pertanyaan itu dijawab dalam Fragile States Index (FSI)—indeks kerentanan global yang dirilis tiap tahun oleh organisasi independen Fund for Peace.
FSI menilai hampir 180 negara dan memberi skor berdasarkan 12 indikator, mulai dari kekuatan aparat keamanan, kesenjangan sosial, hingga legitimasi pemerintahan. Semakin tinggi skornya, artinya negara itu semakin rapuh. Negara seperti Yaman, Sudan, atau Somalia sering kali berada di peringkat atas—artinya mereka sangat rentan. Negara-negara seperti Finlandia atau Norwegia ada di peringkat bawah—menandakan stabilitas yang tinggi.

















