Membaca Ulang Relasi Indonesia dan Australia: Tetangga Namun Tidak Dekat
Mahfut Khanafi
Kedekatan geografis tidak selalu berarti kesamaan kepentingan, begitulah gambaran keunikan hubungan Indonesia dan Australia. Meski hanya dipisahkah oleh laut, Indonesia Australia memiliki sejarah, sistem politik, budaya serta orientasi strategis berbeda.
Oleh karenanya, hubungan kedua negara menjadi penting dan utama. Bagi Indonesia, Australia bukan sekadar negara tetangga di selatan. Australia merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam perdagangan, pendidikan, keamanan, perubahan iklim, hingga kerja sama regional.
Sebaliknya, bagi Australia, Indonesia memiliki arti strategis karena posisinya berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik serta merupakan negara terbesar di Asia Tenggara. Hubungan ini semakin penting ketika kita melihat perubahan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Persaingan antara Amerika Serikat dan China, meningkatnya kepentingan negara-negara besar terhadap Asia Tenggara, persoalan keamanan maritim, serta perkembangan ekonomi kawasan membuat Indonesia dan Australia memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas regional. Namun faktanya, kedekatan tersebut tidak berarti Indonesia-Austalia selalu memiliki pandangan yang sama.
Indonesia dan Politik “Bebas-Aktif”
Hubungan Indonesia dan Australia menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu berarti mencari kesamaan. Kadang-kadang diplomasi justru diperlukan karena terdapat perbedaan. Indonesia harus mampu mengatakan “ya” ketika kerja sama menguntungkan kepentingan nasional dan mengatakan “tidak” ketika sebuah kebijakan tidak sesuai dengan kepentingannya.
Namun, keduanya harus dilakukan melalui komunikasi yang matang dan saluran diplomatik yang terbuka. Inilah makna politik luar negeri bebas dan aktif yang seharusnya diterapkan dalam hubungan dengan Australia.
Indonesia tidak perlu memilih antara Australia, China, Amerika Serikat, atau kekuatan lainnya. Indonesia perlu memilih kepentingannya sendiri, kemudian membangun hubungan dengan semua pihak berdasarkan kepentingan tersebut.
Misalnya dalam konteks keamanan, Indonesia cenderung berusaha menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan tanpa terikat secara eksklusif pada satu blok. Australia, di sisi lain, memiliki hubungan pertahanan dan keamanan yang sangat dekat dengan Amerika Serikat. Perbedaan orientasi tersebut terkadang dapat menciptakan perbedaan perspektif dalam melihat persoalan kawasan.
Indonesia memiliki kepentingan agar Asia Tenggara tetap menjadi kawasan yang stabil dan tidak berubah menjadi arena persaingan terbuka antara kekuatan besar. Indonesia juga memiliki kepentingan untuk mempertahankan sentralitas ASEAN.
Namun disisi lain, Australia memiliki kepentingan yang kuat terhadap keamanan Indo-Pasifik dan hubungan pertahanannya dengan negara-negara seperti Amerika Serikat serta mitra strategis lainnya.
Oleh sebab itu, perbedaan tersebut tidak harus menjadi sumber konflik. Justru di sinilah politik bebas-aktif Indonesia diperlukan. Indonesia tidak perlu mengikuti seluruh pandangan Australia, tetapi juga tidak perlu melihat perbedaan sebagai alasan untuk menjauh.
Hubungan yang matang justru memungkinkan kedua negara bekerja sama ketika kepentingannya bertemu dan berdialog ketika kepentingannya berbeda.
Sebagai contoh dalam hal keamanan laut, kedua negara memiliki kepentingan yang sama yakni mencegah kejahatan lintas negara, memberantas penyelundupan manusia dan perdagangan narkotika, serta meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman keamanan nontradisional.
Posisi geografis Indonesia membuat stabilitas Indonesia sangat berkaitan dengan keamanan Australia. Sebaliknya, stabilitas Australia juga memiliki dampak terhadap lingkungan strategis Indonesia.
Karena itu, kerja sama pertahanan dan keamanan seharusnya tidak semata-mata dilihat sebagai hubungan militer. Kerja sama tersebut harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: membangun kepercayaan, meningkatkan komunikasi, dan mencegah kesalahpahaman di antara dua negara tetangga.
Bagi Indonesia, penting untuk menjaga agar kerja sama keamanan dengan Australia tidak mengurangi independensi politik luar negeri. Kerja sama pertahanan dapat diperkuat tanpa berarti Indonesia harus mengikuti orientasi strategis Australia dalam setiap persoalan. Di sinilah prinsip bebas dan aktif harus diterapkan secara nyata.
Membaca Ulang Relasi Pendidikan dan Ekonomi
Pendidikan menjadi salah satu kekuatan terbesar hubungan Indonesia dan Australia. Setiap tahun terdapat pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, dan profesional yang membangun hubungan antara kedua negara. Mereka menciptakan jaringan yang sering kali bertahan jauh lebih lama dibandingkan hubungan politik antar-pemerintah.
Oleh sebab itu, Pendidikan dapat menjadi bentuk diplomasi yang sangat efektif karena menciptakan pemahaman langsung mengenai masyarakat negara lain. Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia tidak hanya memperoleh pendidikan.
Ia juga mengenal masyarakat Australia, memahami cara berpikir mereka, dan membangun jaringan. Hal yang sama berlaku bagi masyarakat Australia yang belajar atau bekerja di Indonesia. Karena itu, kerja sama pendidikan seharusnya dipandang sebagai investasi diplomasi jangka panjang, bukan sekadar pertukaran pelajar.
Kedua adalah ekonomi, Indonesia dan Australia juga memiliki potensi besar dalam hal ekonomi. Kedekatan geografis memberikan peluang untuk meningkatkan perdagangan, investasi, serta kerja sama di berbagai sektor. Meskipun, Indonesia perlu melihat hubungan ekonomi secara lebih strategis.
Maka pertanyaan yang semestinya diajukan bukan hanya berapa besar investasi Australia di Indonesia atau berapa banyak produk yang diperdagangkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa manfaat jangka panjang hubungan ekonomi tersebut bagi Indonesia?
Kerja sama ekonomi idealnya dapat membantu meningkatkan kemampuan industri Indonesia, membuka lapangan kerja, memperluas akses pasar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mendorong transfer pengetahuan serta teknologi.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah ke Australia. Jangan sampai hubungan perdagangan hanya membuat Indonesia menjadi pemasok komoditas sementara produk dengan nilai tambah lebih tinggi datang dari luar.
Karena itu, para diplomat Indonesia tidak cukup hanya menjadi negosiator politik. Mereka juga harus memahami kebutuhan industri nasional dan mampu membuka peluang ekonomi yang konkret. Meski kita sadari bersama, Australia adalah tetangga strategis yang tidak dapat diabaikan.
Namun, hubungan yang baik bukan berarti Indonesia harus selalu sepakat dengan Australia. Hubungan yang baik justru ditandai oleh kemampuan kedua negara untuk berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa saling menghormati.
Pada akhirnya, masa depan hubungan Indonesia dan Australia akan sangat ditentukan oleh kemampuan keduanya membaca perubahan kawasan. Jika hubungan hanya bertumpu pada diplomasi pemerintah, ruang perkembangannya akan terbatas.
Tetapi jika hubungan tersebut diperluas melalui perdagangan, pendidikan, pertahanan, budaya, teknologi, perubahan iklim, dan hubungan antarmasyarakat, maka kedekatan geografis dapat berubah menjadi kemitraan strategis yang benar-benar kuat.
Indonesia dan Australia adalah tetangga. Mereka tidak selalu memiliki kepentingan yang sama, tetapi justru karena keduanya bertetangga, mereka tidak dapat mengabaikan satu sama lain.
Tantangannya bukan membuat Indonesia dan Australia selalu sepemikiran. Tantangannya adalah membangun hubungan yang cukup dewasa untuk tetap bekerja sama meskipun tidak selalu sepakat.



















