NU, Negara dan Peradaban Global
Muhammad Syaroni Rofii
Muhammad Syaroni Rofii
Dosen Kajian Ketahanan Nasional, SPPB UI; Wakil Katib Syuriah PCINU Turki 2014-2017.
Tali adalah lambang Nahdatul Ulama. Ia mengikat semesta dunia dengan nilainya. Talinya tidak diikat secara keras karena disitulah filosofi NU. Mencari titik tengah diantara kutub yang ekstrim. Mencari jalan kompromi demi mencegah mudarat yang lebih besar.
Kira-kira begitulah penjelasan Kyai Maimun Zubair selaku mustasyar PBNU terkait makna dari logo NU pada forum Konferensi Besar NU di Lombok, NTB tahun 2017 yang penulis ikuti.
Sebagai sebuah organisasi NU telah memasuki usia satu abad. Sangat matang secara usia dan telah banyak kontribusi yang diberikan bagi bangsa dan negara dalam urusan pengayom masyarakat sekaligus mitra bagi pemerintah dalam masa-masa kritis dan menentukan.
Salah seorang figur NU yang pernah memimpin Indonesia, KH Abdurrahman Wahid menunjukkan cara mengelola negara dengan pendekatan santri. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid Indonesia diarahkan menjadi kekuatan baru di kawasan Asia Tenggara sebagai poros demokrasi dan kebebasan. Indonesia yang selama ini dianggap tertutup dengan dunia luar karena embargo negara Barat diarahkan menjadi negara yang bisa beradaptasi dengan nilai universal. Bisa bekerjasama dengan PBB untuk urutan HAM (Greg Barton, 2006).



















