Menggali Kesejatian (13): Kosong itu Perlu
Hamdan Juhannis
Karena saya kosong, jadinya saya diisi oleh banyak teman. Banyak respons tentang kekosongan ide tulisan saya sebelumnya. Ternyata menurut kawan, kekosongan itu adalah inti dari kesejatian.
"Tidak ada pengisian tanpa kekosongan." Seorang kawan jamaah, Mas Budi, mengatakan bahwa keterpenuhan itu dimulai dari kekosongan. Bang Hidayat menyebutnya kosong adalah pencarian makna di depan yang maha mengisi.
Seorang kiai terpandang, Dr. KH. Muhammad Faesal meyakinkan saya bahwa kosong itu bagian dari rasa. Kosong itu ibarat lelah, penat, atau capek. Jenis-jenis rasa itulah yang membuat kita ada. Kalau tidak pernah merasa kosong, artinya kita sudah tidak ada.
Seorang kawan, Dr. Kaswad, sama filosofisnya merespons bahwa sejatinya di alam raya ini tidak ada zat yang benar-benar kosong.
Kekosongan itu adalah hakekat. Kekosongan itu adalah ciptaan Tuhan yang memiliki esensi, makna, dan hikmah.
Jadinya, semua yang kosong itu bukan kosong an sich, apakah itu kosong iman, otak kosong, kertas , botol , kelas , -, bahkan kotak .


















