Di dunia, cuaca panas ekstrem telah menyebabkan ratusan kematian setiap tahunnya, sehingga perlu memahami gejala dan langkah-langkah yang perlu dilakukan. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Cuaca panas eskrem tengah mengancam sejumlah negara di Asia Tenggara. Di Thailand, korban tewas akibat cuaca panas ekstrem dilaporkan telah mencapai 61 orang.
Indonesia juga saat ini tengah menghadapi cuaca panas, walaupun fenomenanya berbeda dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya.
Di dunia, cuaca panas ekstrem telah menyebabkan ratusan kematian setiap tahunnya. Mereka yang paling berisiko cuaca panas ekstrem adalah lanjut usia, orang dengan penyakit kronis, pekerja di luar ruangan, dan termasuk atlet yang berolahraga.
Meski demikian, suhu panas yang ekstrem dapat menyerang siapa saja pada usia berapa pun. Lantas, apa yang terjadi pada tubuh kita saat cuaca sangat panas? Dan bagaimana hal itu bisa berakibat fatal?
Mengutip laporan theconversation, Dr Mark Monaghan, seorang dokter darurat; dan ahli anestesi Dr Liz Bashford dari Doctors for the Environment Australia (DEA) menyebutkan, suhu inti tubuh manusia berada pada sekitar 37°C. Jika naik atau turun, serangkaian mekanisme fisiologis yang sangat efisien ikut berperan.
Dalam keadaan sehat, tubuh manusia biasanya dapat mengatasi penyimpangan sekitar 3,5°C dengan baik, namun setelah itu tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kesusahan.
Dalam cuaca panas, tubuh mempertahankan suhu inti dengan kehilangan panas melalui beberapa cara. Salah satunya memindahkannya ke lingkungan yang lebih dingin, seperti udara atau air sekitar, melalui kulit. Namun jika suhu sekitar sama atau lebih tinggi dari suhu kulit (lebih dari 35-37°C), efektivitas mekanisme ini akan berkurang secara signifikan.
Pembuluh darah yang memasok darah ke kulit melebar. Hal ini memungkinkan lebih banyak darah hangat mengalir di dekat permukaan kulit, sehingga panas dapat hilang ke udara. Itu sebabnya kulit sebagian orang tampak lebih merah di lingkungan panas.
Salah satu cara tubuh kehilangan panas adalah dengan memindahkannya langsung ke lingkungan yang lebih dingin. Penguapan (atau keringat) adalah cara lain untuk menghilangkan panas dari tubuh.
Jika aliran udara cukup dan kelembapan cukup rendah, manusia bisa kehilangan panas dalam jumlah besar melalui keringat. Namun pada hari-hari lembab, laju penguapan berkurang, karena udara tidak dapat menyerap terlalu banyak jika sudah jenuh dengan uap air.
Manusia juga dapat mengurangi produksi panas dengan beristirahat. Sekitar 80% energi yang dihasilkan oleh otot yang bekerja adalah panas, sehingga aktivitas apa pun akan meningkatkan jumlah panas yang harus dikeluarkan tubuh.
Inilah sebabnya mengapa atlet dan pekerja di luar ruangan memiliki risiko tertentu ketika melakukan aktivitas fisik tingkat tinggi.
Sebagian besar peningkatan kematian selama suhu panas terjadi pada pasien lanjut usia yang menderita penyakit kronis. Hal ini karena mereka memiliki sistem saraf pusat yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga tidak dapat mengatur perubahan fisiologis yang diperlukan untuk menghilangkan panas.
Jantung yang lebih tua tidak mampu mengatasi perubahan sirkulasi yang diperlukan agar lebih banyak aliran darah menuju kulit. Beberapa obat juga dapat mengganggu mekanisme hilangnya panas.
Untuk itu, orang yang mengalami salah satu tanda peringatan stres panas (sakit kepala, mual, pusing, dan kelelahan) perlu mengubah perilaku mereka untuk menguranginya.
Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mencari tempat sejuk di dalam ruangan atau di tempat teduh, mengenakan pakaian tipis, menghindari aktivitas fisik, menempelkan kain lembab pada kulit, membenamkan diri dalam air dingin, dan tetap terhidrasi dengan baik.
Namun bagi sebagian orang, seperti anak-anak yang masih terlalu kecil, untuk melakukan perubahan terhadap lingkungannya, seperti mereka yang tertinggal di dalam mobil, hal ini tidak mungkin dilakukan.
Selain itu, bagi lansia yang menderita penyakit mental kronis atau sedang menjalani pengobatan tertentu yang mengganggu kemampuan mereka merespons peningkatan suhu inti, tanda-tanda ini tidak terlihat atau diperhatikan.
Cuaca ekstrem juga dapat meningkatkan risiko heatstroke secara signifikan. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu waspada terhadap paparan suhu tinggi, terutama saat cuaca sangat panas.
Heatstroke adalah kondisi serius yang dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Hal ini terjadi ketika suhu tubuh meningkat secara drastis, menyebabkan gangguan pada sistem pengaturan suhu tubuh. Kondisi ini dapat terjadi saat suhu udara sangat tinggi atau jika tubuh terpapar suhu ekstrem dalam waktu yang lama.
Gejala heatstroke dapat bervariasi, tetapi beberapa tanda yang umum termasuk suhu tubuh yang sangat tinggi, kulit yang merah, panas, dan kering, pusing, denyut nadi cepat dan lemah, pernapasan yang cepat dan dangkal, mual, muntah, kehilangan kesadaran, atau kebingungan mental.
Untuk mencegah heatstroke saat cuaca panas ekstrem, berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan:
1. Pastikan untuk minum banyak air agar tubuh tetap terhidrasi.
2. Hindari melakukan aktivitas fisik yang berlebihan di bawah sinar matahari langsung.
3. Gunakan pakaian yang ringan, longgar, dan berwarna terang untuk membantu menjaga tubuh tetap sejuk.
4. Lindungi diri untuk menghindari paparan langsung dari sinar matahari.
Jika Anda melihat seseorang mengalami gejala heatstroke, segera ambil langkah-langkah berikut:
1. Pindahkan orang tersebut ke tempat yang teduh dan sejuk.
2. Lepaskan pakaian yang tidak perlu untuk membantu pendinginan tubuh.
3. Dinginkan tubuhnya dengan mengompres bagian leher, ketiak, dan selangkangan menggunakan air dingin atau kompres es.
4. Segera cari bantuan medis untuk penanganan lebih lanjut.