I Wayan Sudiatmaja (18), anak pedagang telur keliling yang berhasil menggapai impian kuliah di kampus UGM. Foto: ugm.ac.id
YOGYAKARTA (ERAKINI) - Banyak jalan untuk meraih mimpi. Kendala ekonomi bukanlah halangan bagi siapapun untuk menggapai cita-cita termasuk mimpi mengenyam kuliah ke bangku universitas ternama di Indonesia.
Hal itu lah yang dirasakan I Wayan Sudiatmaja (18) yang berhasil menggapai mimpi kuliah di kampus Universitas Gadjah Mada (). Dilansir dari laman resmi , Sabtu (29/6/2024), kisah perjuangan I Wayan untuk meraih pendidikan tinggi di adalah inspirasi bagi banyak orang.
Perjalanan hidup Wayan sebagai anak dari pedagang telur keliling dan perajin tenun tidak pernah menghentikan langkahnya untuk bermimpi lebih tinggi. Meski berasal dari keluarga sederhana, I Wayan tidak pernah menyerah dalam mengejar cita-citanya.
I Wayan merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang harus menghadapi tantangan besar untuk mewujudkan mimpinya menempuh pendidikan tinggi di UGM. Ayahnya, I Nengah Raul Adyana (43), sehari-hari berprofesi sebagai pedagang telur keliling, sementara ibunya, Ni Luh Sulastini (42), menghasilkan dari seni tenun kain gringsing.
Demi mendukung cita-cita anaknya, keluarga ini berjuang keras. Meski tinggal di kontrakan sederhana di gang sempit Jalan Raya Candidasa, Karangasem, Bali, I Wayan tetap gigih mengejar impiannya.
Dia pun akhirnya berhasil diterima di prodi Ilmu Komunikasi Fisipol UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan mendapatkan subsidi UKT 75 persen serta menjadi calon penerima beasiswa KIP Kuliah.
Ayahnya mengisahkan perjuangannya mulai dari menjadi buruh pengrajin bambu hingga kini sebagai pedagang telur keliling. Setiap harinya, dia mengambil telur dari kandang ayam petelur yang jaraknya 3 kilometer dari rumah, menjualnya dengan untung bersih mencapai 1,5 juta hingga 1,8 juta rupiah per bulan. Sementara itu, ibunya, Ni Luh, menambah penghasilan keluarga dengan seni tenun kain gringsing.
Ni Luh awalnya khawatir dengan biaya kuliah Wayan di UGM, namun Wayan dengan gigihnya memilih jalur beasiswa KIP-K untuk meringankan beban orang tuanya. Keputusan ini diambil setelah perjuangan panjang, termasuk saat ayahnya mengalami kecelakaan dengan motornya yang mempengaruhi bisnis telur keliling mereka.
Wayan, yang juga aktif di olahraga bela diri pencak silat dan memiliki prestasi akademis yang bagus, bermimpi bisa aktif di kegiatan organisasi dan kemahasiswaan di UGM. Dia berencana untuk mengembangkan diri dengan pengalaman baru dan mencari peluang melalui organisasi dan perlombaan.
Wayan mengaku tidak mudah membujuk kedua orang tuanya untuk merestui dirinya mendaftar kuliah di UGM. Dia lalu menjanjikan untuk mendaftar beasiswa KIP-K agar tidak membebani kedua orang tuanya.
Saat hari pengumuman SNBP, ia sempat menyembunyikan berita gembira kelulusannya tersebut kepada kedua orang tuanya. Baru keesokan harinya ia memberanikan diri menyampaikan hal itu, sembari menunggu saat ibunya selesai memasak di dapur dan ayah baru bersantai di teras setelah membersihkan telur-telur dagangannya.
Wayan lalu mengajak kedua orang tuanya duduk di atas dipan di ruang tengah.
“Saya lolos Pak,” “Di mana lolos?” kata Ayah. “Dapat di UGM,”“Ya, syukurlah,” jawab sang ayah.
Tapi reaksi sang ibu cukup dingin. Ni Luh terdiam agak lama. Wayan pun menduga ibunya kepikiran soal biaya. “Mungkin dalam hati beliau senang juga. Saya bilang, mumpung lagi registrasi, saya pakai yang KIP-K,” kata Wayan meyakinkan.
Menurut Wayan, sejak di bangku sekolah dasar, kedua orang tua selalu mendidiknya berperilaku hidup sederhana. Setiap berangkat sekolah, ia selalu rutin membawa bekal makan siang dari rumah.
Nengah dan Ni Luh menyampaikan harapan agar Wayan mampu menjalani kuliahnya dengan baik agar bisa lulus meraih gelar sarjana dan membawa harum nama baik keluarga.
Kisah perjalanan Wayan Sudiatmaja adalah bukti nyata bahwa dengan tekad yang kuat, kegigihan, dan dukungan keluarga, segala impian dapat tercapai. Meskipun dari lingkungan yang mungkin terbatas.