SURABAYA, (ERAKINI) - Masjid RayaCheng Ho Surabaya menjadi salah satu ikon religi unik di Kota Pahlawan yang memadukan budaya Tionghoa dan Islam dalam satu bangunan. Masjid ini berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Kecamatan Genteng, sekitar 1 kilometer di utara Balai Kota , Jawa Timur.
Pembangunan masjid ini diprakarsai para sesepuh, penasehat, dan pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), bersama Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 15 Oktober 2001, bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Proses pembangunan dimulai pada 10 Maret 2002 dan masjid ini diresmikan pada 13 Oktober 2002.
Dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (7/4/2026), berikut 3 hal unik dari masjid Cheng Ho di Surabaya
1. Arsitektur Bernuansa Kelenteng
Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya ini memiliki bentuk menyerupai kelenteng atau rumah ibadah umat Tri Dharma. Bangunan berdiri di kompleks gedung serbaguna PITI Jawa Timur, tepatnya di Jalan Gading No. 2, di belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Ciri khas bangunan terlihat dari dominasi warna merah, hijau, dan kuning, serta ornamen bergaya Tiongkok klasik. Pintu masuk utama dirancang menyerupai pagoda, dilengkapi relief naga dan patung singa berbahan lilin. Di bagian puncak pagoda, terdapat lafaz Allah dalam huruf Arab.
Di sisi kiri bangunan juga terdapat beduk sebagai pelengkap unsur tradisional masjid. Selain di Surabaya, masjid serupa juga dibangun di beberapa daerah, seperti Masjid Cheng Ho Palembang dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi.
2. Nama diambil dari Laksamana Cheng Ho
Nama masjid ini diambil dari Cheng Ho, seorang laksamana Muslim asal Tiongkok yang dikenal aktif berdagang sekaligus menyebarkan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Pada abad ke-15, masa Dinasti Ming, gelombang perantau Tionghoa Muslim dari Yunnan mulai berdatangan ke Nusantara, khususnya Pulau Jawa, untuk berdakwah.
Cheng Ho tercatat beberapa kali singgah di Nusantara, termasuk mendarat di Semarang pada 1410 dan 1416. Selain berdagang dan menjalin hubungan diplomatik, ia juga menjalankan misi penyebaran Islam sebagai utusan Kaisar Yongle ke Kerajaan Majapahit.
3. Angka 11 Lambang Ukuran Ka’bah
Masjid Muhammad Cheng Ho memiliki kapasitas sekitar 200 jamaah. Bangunan berdiri di atas lahan seluas 21 x 11 meter dengan luas ruang utama 11 x 9 meter.
Angka-angka tersebut mengandung makna filosofis. Angka 11 melambangkan ukuran Ka’bah saat pertama kali dibangun, angka 9 merujuk pada Wali Songo, dan angka 8 melambangkan Pat Kwa atau simbol keberuntungan dalam budaya Tionghoa.
Dari sisi arsitektur, desain masjid ini terinspirasi dari Masjid Niu Jie yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Pengaruh tersebut terlihat pada bagian atap utama dan mahkota masjid, yang kemudian dipadukan dengan gaya Timur Tengah dan budaya lokal Jawa.
Arsitek masjid ini adalah Ir. Abdul Aziz asal Bojonegoro, yang merancang bangunan dengan mengedepankan harmoni antara budaya Tionghoa, Arab, dan Nusantara.