Jejak Sejarah Masjid Al-Ghamamah di Madinah yang Sempat Digunakan Rasulullah SAW
Abdul Rahman Ahdori








Al-Ghamama terletak sekitar 300 meter dari Masjid Nabawi. Nama Al-Ghamama yang berarti "awan" berasal dari peristiwa ketika Rasulullah SAW berdoa meminta hujan, lalu awan muncul dan membawa hujan. Masjid ini juga dikenal sebagai tempat Rasulullah melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (23/12/2025), Masjid Al-Ghamamah sempat tidak digunakan untuk aktivitas ibadah. Namun, belakangan ini masjid tersebut kembali difungsikan dan menjadi salah satu tujuan ziarah umat Islam yang berkunjung ke Madinah.
Masjid Al-Ghamamah tercatat sebagai bagian dari masjid-masjid bersejarah peninggalan Islam awal yang masih terjaga hingga kini, sekaligus menjadi saksi perkembangan arsitektur Islam dari masa ke masa.
Masjid Al-Ghamamah terletak sekitar 500 meter di sebelah barat daya Pintu As-Salam, Masjid Nabawi. Lokasinya yang berdekatan dengan masjid utama di Madinah membuat tempat ini mudah dijangkau oleh jamaah dan peziarah.
Nama Al-Ghamamah berasal dari bahasa Arab yang berarti “awan”. Penamaan ini merujuk pada riwayat yang menyebutkan bahwa sebuah awan menaungi Rasulullah SAW dan para sahabat saat beliau melaksanakan salat di lokasi tersebut, sehingga sinar matahari terhalang. Kisah tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan dan sejarah yang melekat pada masjid ini hingga sekarang.
Masjid Al-Ghamamah pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sekitar tahun 86-93 Hijriah. Seiring waktu, masjid ini mengalami sejumlah renovasi oleh para penguasa Islam. Renovasi tercatat dilakukan oleh Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan Ash-Shalihi sebelum tahun 761 Hijriah, kemudian dilanjutkan oleh Syarif Saifuddin Inal Al-Ala’i pada tahun 861 Hijriah.
Perubahan besar terjadi pada masa Sultan Abd-ul-Mejid I pada tahun 1275 Hijriah atau 1859 Masehi, dengan pembangunan ulang masjid yang bentuk dasarnya masih dipertahankan hingga saat ini. Renovasi juga dilakukan pada masa Sultan Abdul Hamid II dan berlanjut pada era pemerintahan Arab Saudi.
Masjid Al-Ghamamah memiliki bentuk bangunan persegi panjang yang terbagi menjadi dua bagian utama, yakni pintu masuk dan ruang salat.
Bagian pintu masuk memiliki panjang sekitar 26 meter dan lebar 4 meter, serta dihiasi lima kubah berbentuk lingkaran. Sementara itu, ruang salat berukuran sekitar 30 meter × 15 meter dengan enam kubah melingkar. Kubah terbesar berada tepat di atas mihrab, menjadi titik fokus utama ruang ibadah.
Keunikan arsitektur tersebut menjadikan Masjid Al-Ghamamah tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi umat Islam.
