KUPANG, (ERAKINI) - Ekonomi syariah dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, mengatakan konsep ekonomi syariah tidak terbatas pada kelompok tertentu. Menurut dia, sistem ini mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan kebermanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Ekonomi syariah bukan hanya untuk kelompok tertentu, tetapi merupakan sistem yang inklusif dan membawa manfaat luas,” ujar Adidoyo seperti dilansir dari Antara, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi syariah di NTT berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, sektor ini juga dinilai mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Adidoyo menuturkan, penguatan ekonomi syariah dilakukan melalui pengembangan rantai pasok halal secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk juru sembelih halal.
Di sisi lain, peluang pengembangan ekonomi syariah di NTT juga didukung oleh sektor pariwisata halal yang terus berkembang. Peningkatan jumlah penerbangan internasional disebut membuka peluang masuknya wisatawan dari segmen halal tourism.
“Kondisi ini mendorong kesiapan ekosistem halal di daerah, sehingga mampu menjawab kebutuhan wisatawan,” katanya.
Bank Indonesia NTT juga menilai tingginya partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan ekonomi syariah dapat memberikan dampak berantai (multiplier effect), terutama dalam meningkatkan pendapatan pelaku UMKM lokal.