JAKARTA, (ERAKINI) - Pangeran Angka Wijaya, atau lebih dikenal sebagai Pangeran Angkawijaya, merupakan sosok penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, khususnya di wilayah Brebes dan sekitarnya. Ia lahir pada tahun 1480 M di Cirebon, sebagai keturunan dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), yang merupakan salah satu tokoh utama dalam penyebaran Islam di Indonesia. Pangeran Angka Wijaya memiliki peran yang signifikan dalam memperkenalkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan seni.
Berdasarkan serat keraton Kasepuhan Cirebon Jawa Barat, Pangeran Angkawijaya atau Panembahan Losari adalah anak dari perkawinan pasangan Ratu Wanawati (Cirebon) dengan anak keturunan Raja Demak, Pangeran Dipati Carbon atau yang sekarang dikenal Cirebon.
Panembahan Losari, diyakini selain sebagai ahli agama, juga mempunyai keahlian lain di bidang seni. Konon motif batik corak Mega Mendung, corak Gringsing adalah hasil dari buah kreasinya. Hasil kreasi lainnya menciptakan Kereta Kencana yang kini tersimpan di Kasultanan Kasepuhan Cirebon.
Pangeran Angka Wijaya disebut mendapatkan tugas untuk menyebarluaskan dakwah dan ajaran Islam di wilayah Cirebon bagian timur, yaitu Losari. Jejak dakwah yang dilakukan oleh Pangeran Angka Wijaya menurut catatan sejarah dilakukan pada abad ke-16.
Disebutkan, Pangeran Angkawijaya merupakan bangsawan yang menyaru sebagai masyarakat biasa dan melakukan proses dakwah penyebaran agama Islam di wilayah Losari.
Dikisahkan dari sejumlah sumber disebutkan, setelah mendapatkan perintah dari kakeknya, Sunan Gunung Jati, Pangeran Angka Wijaya melakukan perjalanan ke arah timur dan menetap di Desa Karangsari (sekarang bagian dari Kabupaten Brebes).
Di wilayah ini, ia mulai aktif menyebarkan ajaran Islam dan mendirikan komunitas Muslim yang kuat. Keberhasilannya dalam menyebarkan Islam di daerah pesisir utara Jawa Tengah ini sangat dihargai oleh masyarakat setempat
Pangeran Angka Wijaya juga dikenal sebagai sosok yang memiliki kedalaman spiritual dan pemahaman tasawuf yang baik. Ia mengajarkan pentingnya hubungan antara manusia dengan Tuhan melalui praktik spiritual yang mendalam, sehingga menarik perhatian banyak orang untuk mengikuti ajarannya
Metode dakwah
Salah satu metode utama yang digunakan oleh Pangeran Angka Wijaya untuk menyebarkan Islam adalah melalui seni pertunjukan, khususnya tari Topeng Kelana. Dalam pertunjukan ini, penonton diharuskan membaca dua kalimat syahadat sebagai syarat untuk menonton. Ini adalah cara inovatif untuk mengajak masyarakat mengenal dan menerima ajaran Islam tanpa merasa terpaksa.
Tari Topeng Kelana tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam terkait dengan ajaran Islam. Gerakan dan kostum dalam tari ini dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai keislaman, seperti kesopanan dan spiritualitas. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah memahami konsep-konsep Islam tanpa merasa tertekan oleh ajaran agama yang formal
Selain pertunjukan, Pangeran Angka Wijaya juga mengadakan ritual yang berkaitan dengan tari Topeng Kelana. Ritual ini berfungsi sebagai sarana penghubung antara penari, penonton, dan Tuhan, serta memperkuat identitas sosial komunitas Muslim yang baru terbentuk di daerah tersebut.
Dengan memanfaatkan kesenian yang sudah dikenal oleh masyarakat, Pangeran Angka Wijaya berhasil mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi lokal. Ini menciptakan suasana yang akrab bagi masyarakat, sehingga mereka lebih terbuka untuk menerima ajaran baru. Kesenian bersifat universal, memungkinkan semua lapisan masyarakat untuk terlibat dan memahami Islam dengan lebih baik
Pangeran Angkawijaya tercatat meninggal pada tahun 1580 yang berarti di kisaran abad 15-16 Masehi. Pangeran yang akrab disebut masyarakat sekitar sebagi Mbah Pulosaren ini dimakamkan di Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.
Makam Pangeran Angka Wijaya juga selalu ramai peziarah terutama ketika penyelenggaraan haul terus diperkuat oleh para pemangku kebijakan dengan tujuan agar masyarakat tidak lupa dengan akar sejarahnya, terutama sejarah penyebaran Islam di Losari yang dinilai menjadi titik sentral meluasnya Islam di seluruh Kabupaten Brebes. Makam Pulosaren sendiri menunjukkan bahwa pengaruh Islam dan karakter Kerajaan Cirebon cukup kuat.
Untuk makam Pangeran Losari atau Pangeran Angka Wijaya dekat dengan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, tepatnya di Sidamulya, Kecamatan Losari Kabupaten Brebes. Wilayah Losari sendiri saat ini terbagi di dua provinsi yakni, LosariCirebon di Jawa Barat dan LosariBrebes di Jawa Tengah. Hal ini tidak lepas dari kebijakan kerajaan Mataram sebagai kompensasi terhadap VOC.
Legacy atau warisan Pangeran Angka Wijaya tidak hanya terlihat dari peninggalan kesenian seperti tari Topeng Kelana tetapi juga dari komunitas Muslim yang terus berkembang di wilayah Brebes hingga saat ini.
Ia dikenang sebagai seorang ulama sekaligus seniman yang berhasil menggabungkan dakwah dengan budaya lokal, menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Dengan demikian, Pangeran Angka Wijaya bukan hanya sekadar tokoh sejarah, tetapi juga simbol dari harmoni antara agama dan budaya yang terus relevan hingga sekarang.