Ilustrasi - Masjid Sultan Ternate. Datuk Maulana Hussein jadi tokoh kunci penyebar Islam di Ternate dan Maluku Utara. (Foto: Wikipedia)
JAKARTA, (ERAKINI) - Islam ternyata tak hanya tumbuh subur di Jawa dan Sumatera. Jauh di bagian timur Indonesia, Islam masuk dan berkembang pesat. Ternate dan Tidore di Maluku Utara merupakan dua kerajaan yang menjadi kunci penyebaran Islam di wilayah ini. Salah satu tokoh kunci penyebaran agama Islam di Ternate dan juga Maluku Utara adalah
Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam bukunya berjudul Sejarah Nasional Indonesia III, pada abad ke-14 Masehi, Kerajaan Majapahit, Ternate dan Tidore telah menjalin hubungan perdagangan dan pelayaran dengan Pelabuhan Tuban dan Gresik.
Bahkan pada abad tersebut, pelabuhan-pelabuhan di bawah Kerajaan Majapahit telah didatangi pedagang Muslim. Pada tahun 1465, Datuk Maulana Hussein, seorang ulama asal Jawa yang sangat dihormati menginjakkan kaki di Ternate, Maluku Utara.
Maulana Hussein disebut-sebut sebagai bagian dari silsilah Wali Songo, para penyebar Islam terkenal di Jawa. Keturunannya melanjutkan tradisi dakwah dan pendidikan Islam di Nusantara.
Menurut banyak sumber yang dikutip, Jumat (28/3), Maulana Hussein diyakini berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, dan sebelumnya tinggal di Gresik, Jawa Timur. Ia datang ke Ternate tidak hanya untuk berdagang tetapi juga untuk menyebarkan ajaran Islam. Keahliannya dalam membaca Al-Qur'an dengan suara merdu menarik perhatian banyak orang.
Banyak penduduk Ternate yang datang ke rumahnya untuk mendengarkan tilawahnya, yang kemudian mendorong mereka untuk mempelajari Islam lebih dalam.
Maulana Hussein dikenal sebagai sosok yang mampu menarik minat masyarakat Ternate untuk memeluk Islam. Ia membuka pengajian dan sekolah bagi siapa saja yang ingin belajar tentang agama Islam.
Dalam proses dakwahnya, ia menetapkan syarat bahwa mereka yang ingin belajar harus memeluk Islam terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan banyak orang Ternate berbondong-bondong masuk Islam, sehingga mengubah dinamika sosial dan keagamaan di wilayah tersebut.
Maulana Hussein membuka pengajian di kediamannya untuk mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Ia memberikan pelajaran tentang cara membaca Al-Qur'an dan menjelaskan isi ajaran Islam secara mendalam, sehingga banyak orang tertarik untuk belajar dan memeluk agama Islam
Tidak hanya itu. Dengan suara merdu dan kemampuan membaca Al-Qur'an yang baik, Maulana Husein sering mengadakan tilawah di malam hari. Kegiatan ini menarik perhatian banyak penduduk lokal yang datang untuk mendengarkan, sehingga mendorong mereka untuk mempelajari lebih lanjut tentang Islam.
Selain itu, Maulana Hussein juga memanfaatkan budaya setempat sebagai sarana dakwah, menjalin hubungan baik dengan masyarakat melalui interaksi sosial yang positif. Metode ini membantu dalam membangun kepercayaan dan penerimaan terhadap ajaran Islam.
Setelah jumlah penganut Islam semakin banyak, Maulana Husein juga berperan dalam mendirikan masjid dan pesantren sebagai tempat ibadah dan pendidikan agama bagi masyarakat. Ini menjadi pusat kegiatan dakwah dan pembelajaran bagi umat Muslim
Melalui kombinasi metode-metode tersebut, Datuk Maulana Hussein berhasil menyebarkan Islam dengan cara damai dan efektif di Ternate dan Maluku Utara.
Kehadiran Datuk Maulana Hussein di wilayah yang terkenal dengan rempah-rempahnya ini juga mendapat perhatian dari Kolano Marhum, penguasa setempat, yang kemudian menjalin hubungan baik dengan Maulana Hussein. Hubungan ini memungkinkan Maulana Hussein untuk memperluas pengaruhnya dan mendirikan komunitas Muslim yang kuat di Ternate. Pada akhirnya Raja Ternate Marhum akhirnya memutuskan memeluk Islam.
Setelah mengucap kalimat Syahadat, Marhum menjadi raja pertama yang mengadopsi agama Islam secara resmi. Hal ini memberikan legitimasi yang kuat bagi penyebaran Islam di kalangan masyarakat Ternate. Sebelumnya, tanpa dukungan dari penguasa, proses islamisasi berjalan lambat dan sulit diterima oleh rakyat
Setelah mengislamkan Raja Ternate saat itu yakni Kolano Marhum, Maulana Hussein melanjutkan ajarannya kepada seluruh keluarga istana dan pejabat-pejabatnya. Ia mengajarkan tata cara salat dan bacaan Al-Qur'an, sehingga Marhum pun memerintahkan seluruh rakyatnya untuk memeluk Islam. Dengan demikian, Maulana Hussein tidak hanya berperan sebagai juru dakwah, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial dan budaya di Ternate.
Setelah wafatnya Marhum pada tahun 1486, putranya Zainal Abidin meneruskan kepemimpinan dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan Ternate. Zainal Abidin, yang juga merupakan murid Maulana Hussein, menerapkan berbagai reformasi untuk memperkuat posisi Islam dalam pemerintahan. Di bawah kepemimpinannya, gelar raja berubah menjadi sultan, dan lembaga-lembaga keagamaan dibentuk untuk mendukung implementasi syariat Islam
Di era Kesultanan Zainal Abidin inilah Islam berkembang pesat di Ternate dan Maluku Utara. Sultan Zainal Abidin merupakan penguasa Kerajaan Ternate ke-18, yang memerintah antara 1486 hingga 1500. Ia merupakan penguasa Ternate pertama yang menggunakan gelar sultan, setelah masuk Islam pada akhir abad ke-15.
Sebelumnya, gelar bagi penguasa Kerajaan Ternate adalah kolano atau raja. Sultan Zainal Abidin juga merombak sistem pemerintahan kerajaan. Kerajaan Ternate pun resmi menjadi pemerintahan bercorak Islam dan Sultan Zainal Abidin dianggap sebagai peletak dasar Islam di sana.
Dikisahkan bahwa pada 1494, Zainal Abidin pergi ke Jawa untuk memperdalam agama Islam. Zainal Abidin menuju pondok pesantren milik Sunan Giri, di mana ia mendapat julukan Sultan Bulawa atau Sultan Cengkih. Julukan yang diberikan kepada Zainal Abidin ini karena ia datang ke Jawa membawa cengkih dari Bulawa, Gorontalo. Setelah memperdalam agama Islam di Jawa selama beberapa waktu, Zainal Abidin kembali ke Ternate.
Dari Jawa, Zainal Abidin membawa beberapa ulama untuk mengembangkan agama Islam di kerajaannya, salah satunya adalah Tuhubahanul. Ia kemudian menggunakan gelar sultan, sebagai ganti dari gelar kolano, yang digunakan sebelumnya. Selain itu, Sultan Zainal Abidin mulai mengganti sistem pemerintahan Kerajaan Ternate menjadi bercorak Islam dan menerapkan hukum Islam di seluruh kesultanan.
Perkembangan Islam di Maluku pun semakin pesat setelah Sultan Zainal Abidin meninggal pada tahun 1500. Sepeninggal Sultan Zainal Abidin, tampuk kekuasaan Kesultanan Ternate jatuh ke tangan putranya, Sultan Bayanullah.