Aula Boedi Oetomo yang menjadi lokasi Kongres Pertama Budi Utomo di Yogyakarta, tepatnya di ruang makan Kweekschool (sekarang SMAN 11 Yogyakarta) di Jalan AM Sangaji. Foto: SMAN 11 Yogyakarta
JAKARTA, (ERAKINI) – Sejarah mencatat bahwa di bulan Ramadan, berbagai peristiwa penting terjadi yang menandai perjalanan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.
Perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga melalui gerakan pemikiran, diplomasi, serta perumusan kebijakan yang menjadi dasar berdirinya negara ini. Banyak momen penting dalam sejarah bangsa terjadi di bulan Ramadan, menunjukkan bagaimana nilai ketekunan, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah begitu melekat dalam perjalanan Indonesia.
Dari masa kebangkitan nasional hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Ramadan menjadi saksi atas berbagai peristiwa yang memperkuat fondasi bangsa. Banyak keputusan besar diambil, banyak perjuangan dilakukan, dan banyak ujian datang di bulan yang penuh makna ini.
Semangat juang yang tidak surut meski dalam kondisi berpuasa menjadi bukti bahwa perjuangan bangsa ini tidak hanya didorong oleh faktor politik atau militer, tetapi juga oleh keyakinan dan tekad yang kuat.
Organisasi ini didirikan oleh para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada 20 Mei 1908. Para pelajar tersebut antara lain Soeradji, Muhammad Saleh, Soewarno A, Goenawan Mangoenkoesoemo, Suwarno B, R. Goembrek, R. Angka, dan Soetomo.
Kongres Pertama Budi Utomo dilaksanakan di Yogyakarta, tepatnya di ruang makan Kweekschool (sekarang SMAN 11 Yogyakarta) di Jalan AM Sangaji. Kongres berlangsung pada 3–5 Oktober 1908 dan dibuka secara resmi pada pukul 21.00. Jumlah peserta yang hadir kurang lebih 300 orang, termasuk sekitar 20 orang dari organisasi wanita. Ketua panitia kongres adalah Dr Wahidin Soediro Hoesodo.
Kongres I Budi Utomo menetapkan beberapa keputusan penting, antara lain:
1. Tujuan perkumpulan adalah mengusahakan kemajuan yang selaras bagi negeri dan bangsa, terutama melalui pengembangan pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik, industri, dan kebudayaan.
2. Menetapkan Ketua Pengurus Besar pertama, yakni R Toemenggung Ario Tirtokoesoemo (Bupati Karanganyar), dengan anggota pengurus besar berasal dari pegawai negeri atau mantan pegawai negeri.
3. Menetapkan Yogyakarta sebagai pusat Perkumpulan Budi Utomo.
Wahidin Soedirohoesodo adalah tokoh pencetus lahirnya Boedi Oetomo pada 1908. Ia lahir pada 7 Januari 1852 di Mlati, Sleman, Yogyakarta, dan wafat pada 26 Mei 1917. Pada 1895, bersama rekan-rekannya, ia mendirikan surat kabar dwibahasa (Jawa dan Melayu) Retno Dumilah di Yogyakarta.
Pada 1906–1907, ia aktif menggalang Studiefonds (Dana Pendidikan) bagi penduduk pribumi. Setelah bertemu dengan Soetomo, seorang pelajar STOVIA, gagasan mereka berpadu dan teraktualisasi dalam berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Wahidin menikah dengan seorang perempuan Betawi bernama Anna dan memiliki dua anak, salah satunya Abdullah Subroto, yang kemudian menurunkan pelukis Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah.
Sementara itu, Soetomo merupakan ketua pertama Boedi Oetomo. Ia lahir di Ngepeh, Jawa Timur, pada 30 Juli 1888 dengan nama Subroto dan wafat di Surabaya pada 30 Mei 1938. Ia masuk STOVIA pada 10 Januari 1903 dan lulus pada 11 April 1911. Bersama Goenawan, Soeradji, Goembrek, dan rekan-rekannya, ia mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Soetomo menjadi pelajar pertama yang merespons ajakan Dr Wahidin untuk mendirikan organisasi tersebut bersama para pelajar STOVIA lainnya.
Latar Belakang dan Persiapan Kongres
Dalam pengkajian koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta berjudul “Budi Utomo: Sejarah dan Kongres Pertama di Yogyakarta 1908, Sebuah Kajian Koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta”, disebutkan bahwa pada awal abad ke-19 kondisi bangsa Indonesia (disebut “Inlander” pada masa itu) sangat memprihatinkan akibat penindasan dan penghisapan penjajah Belanda selama puluhan tahun. Kondisi tersebut membawa kemunduran dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan.
Keadaan ini disadari para pelajar Jawa yang menempuh pendidikan di STOVIA. Melalui pendidikan yang mereka peroleh, kesadaran kebangsaan dan kemerdekaan tumbuh dan berkembang, berbeda dengan masyarakat luas yang belum mendapatkan akses pendidikan.
Dari para pelajar STOVIA inilah muncul gagasan mendirikan perhimpunan pelajar bernama Budi Utomo, yang bertujuan mempercepat kemajuan rakyat. Mereka bersemangat menyelenggarakan Kongres Budi Utomo I demi kelangsungan organisasi modern yang memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai pedoman kegiatan.
Korbankan Harta, Tenaga, dan Pikiran
Ketua Budi Utomo, Soetomo, dalam mempersiapkan Kongres I mendapat dukungan penuh dari para anggota yang sebagian besar merupakan pelajar STOVIA. Persiapan diawali dengan propaganda dan pendekatan untuk memperoleh simpati dari kalangan terpelajar, elite bangsawan, dan tokoh pribumi terkemuka. Pendekatan dilakukan secara hati-hati kepada priyayi tinggi yang dinilai memiliki kepedulian terhadap kemajuan bangsa.
Langkah awal dimulai dari teman-teman sekelas, kemudian meluas ke kelas lain yang menunjukkan perhatian terhadap organisasi. Sebelum kongres berlangsung, tepatnya pada 5 Oktober 1908, keanggotaan Budi Utomo telah mencapai sekitar 1.200 orang. Persentase anggota non-siswa pun meningkat hingga lebih dari separuh jumlah anggota.
Persiapan kongres mengorbankan harta, tenaga, dan pikiran. Uang tunjangan bulanan dari pemerintah untuk bulan puasa digunakan untuk penyelenggaraan kongres. Sejumlah anggota bahkan menjual barang pribadi seperti jam dan kain untuk membiayai kegiatan. Dr HF Roll, pemimpin STOVIA, turut memberikan pinjaman dana. Soetomo juga menjalin komunikasi dengan EFE Douwes Dekker di Jakarta serta tokoh-tokoh lain untuk memperoleh dukungan.
Pembahasan susunan acara kongres dilakukan pada 8 Agustus 1908 antara Dr Wahidin dan pengurus Budi Utomo di gedung STOVIA. Disepakati bahwa kongres bersifat terbuka untuk umum. Kota Yogyakarta dipilih sebagai lokasi karena letaknya strategis di jalur kereta api, memiliki wibawa sebagai kota kerajaan, serta menjadi tempat tinggal Dr Wahidin. Selain itu, Yogyakarta dipandang sebagai lambang kesatuan Jawa dan bentuk penghormatan atas dukungan Pangeran Noto Dirodjo (Paku Alam).
Dr Wahidin lalu menghadap Residen Yogyakarta untuk memperoleh izin pelaksanaan kongres. Dengan sikap rendah hati dan prinsip “mengalah untuk menang”, ia akhirnya memperoleh izin dengan syarat tidak membahas politik. Kongres berlangsung pada 3–5 Oktober 1908 di Sekolah Guru (Kweekschool) Jetis, Yogyakarta.
Para utusan menginap di asrama sekolah yang sedang libur, sementara sidang dilaksanakan di ruang makan. Kongres dihadiri cabang Budi Utomo dari Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Surabaya, dan Probolinggo, serta sejumlah bangsawan, pejabat, dokter, guru, dan tokoh masyarakat, dengan total peserta sekitar 400 orang.
Kongres dibuka dalam bahasa Jawa oleh Dr Wahidin pada 3 Oktober 1908 pukul 21.00. Lima pembicara utama tampil dalam kongres tersebut, yakni R Soetomo, M Djoko Saroso, R Kamargo, Dr MB Mangoenhoesodo, dan M Goenawan Mangoenkoesoemo.
Meskipun terjadi perdebatan sengit, semangat persatuan tetap terasa. Salah satu keputusan penting adalah bahwa Budi Utomo tidak akan mencampuri urusan adat. Organisasi ini menegaskan diri sebagai organisasi sosial, meskipun tidak menutup kemungkinan menempuh langkah politik bila diperlukan. Semboyan resmi yang mencerminkan sikap tersebut adalah “Evolusi, bukan revolusi”.
Setelah pembahasana dan perdebatan panjang, Kongres akhirnya menetapkan Pengurus Besar (Pusat) Budi Utomo dengan susunan:
- Ketua: Raden Toemenggung Ario Tirtokoesoemo (Regent/Bupati Karanganyar)
- Wakil Ketua : Mas Soediro Hoesodo, dokter pensiunan dari Yogyakarta
- Sekertaris I: Mas Ngabei Dwidjosewojo, guru bahasa Jawa di SPG pribumi Yogyakarta
- Sekertaris II: R Sosrosegondo, guru bahasa Melayu di SPG Yogyakarta
- Bendahara: R M Pandji Gondoatmodjo mantan Letnan Legium Pakualaman Yogyakarta
- Komisaris : R M Ario Soerjodipoetro, Jaksa Kepala Bondowoso; R M Pandji Gondosoemarjo, Jaksa Kepala di Solo; R Djojosoebroto, Jaksa di Garut; dan Mas Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter Demak.
Kepengurusan mayoritas berada di tangan golongan tua dan bangsawan tinggi. Terpilihnya Raden Ario Tirtakoesoemo sebagai ketua dipandang sebagai jalan tengah yang dapat diterima berbagai pihak. Kalangan tua merasa puas karena jabatan ketua dipegang seorang Regent, sementara kalangan muda menilai Tirtokoesoemo sebagai sosok berpikiran maju dan memahami kebutuhan rakyat.
Tirtakoesoemo adalah lulusan Pertanian di Bogor. Kemudian menjadi Asisten Wedono di Karesidenan
Kedu, Jaksa Kepala di Magelang pada tahun 1882, dan pada tahun 1903 menjadi Bupati Karanganyar. Tirtakoesoemo juga dikenal sebagai pejabat pemerintah yang terkemuka dan dikenal oleh kalangan luas.
Adapun Dr Wahidin Soedirohoesodo, penggagas organisasi, menjabat sebagai wakil ketua. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soerjodipoetro yang dikenal radikal turut dimasukkan sebagai komisaris demi menjaga persatuan organisasi.
Kongres Pertama Budi Utomo di bulan Ramadan 1908 menjadi tonggak penting kebangkitan nasional. Dari sinilah lahir embrio gerakan modern yang kelak menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan menjadi fondasi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.