Search

Peristiwa Sejarah di Bulan Ramadan: Pembebasan Kota Thaif, Jejak Kemenangan dan Hikmah Perjuangan Rasulullah

JAKARTA, (ERAKINI) - Peristiwa besar dalam sejarah Islam pada bulan Ramadan tidak hanya mencakup penaklukan kota suci, tetapi juga rangkaian perjuangan yang penuh strategi, kesabaran, dan kebijaksanaan. Salah satu momen penting terjadi pada masa Rasulullah, yang berkaitan dengan pembebasan wilayah Thaif.

Pada tahun 8 Hijriah (630 M), Nabi Muhammad memimpin sekitar 10.000 pasukan dari Madinah menuju Makkah. Langkah ini diambil setelah pelanggaran yang dilakukan kaum Quraisy terhadap sekutu Muslim, yaitu Bani Khuza’ah.

Tujuan utama bukanlah peperangan, melainkan mengembalikan fungsi Masjidil Haram sebagai pusat ibadah tauhid. Kota Makkah akhirnya dikuasai tanpa perlawanan berarti. Rasulullah SAW bersama para sahabat kemudian menghancurkan ratusan berhala yang ada di sekitar Ka’bah.

Keberhasilan tersebut membuat kabilah Tsaqif dan Hawazin di wilayah Thaif merasa terancam. Mereka mempersiapkan perlawanan di Lembah Hunain.

Rasulullah SAW kemudian mengerahkan sekitar 12.000 pasukan. Pertempuran berlangsung sengit, namun pada akhirnya kaum Muslim meraih kemenangan. Peristiwa ini diabadikan dalam Surah At-Taubah ayat 25–28, yang mengingatkan bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh jumlah, melainkan pertolongan Allah.

Setelah kemenangan, umat Islam memperoleh banyak tawanan dan harta rampasan perang. Namun, sikap yang ditunjukkan justru penuh kemanusiaan. Ratusan tawanan dibebaskan tanpa tebusan, sementara lainnya diperlakukan dengan baik hingga situasi kondusif.

Pasukan Muslim kemudian bergerak menuju Thaif. Namun, kota ini memiliki pertahanan kuat dengan benteng dan pemanah yang tangguh. Selama sekitar 15 hari pengepungan, serangan bertubi-tubi dari dalam benteng membuat pasukan Muslim akhirnya mundur untuk sementara, terutama karena memasuki musim haji. Langkah mundur ini bukan kekalahan, melainkan strategi.

Tak lama setelah itu, muncul ancaman dari Kekaisaran Romawi. Rasulullah SAW memimpin ekspedisi besar ke Tabuk dengan sekitar 30.000 pasukan. Meski tidak terjadi pertempuran, ekspedisi ini memperluas pengaruh Islam di wilayah tersebut.

Thaif Memeluk Islam

Setelah ekspedisi Tabuk, rencana kembali ke Thaif membuat para pemimpin Tsaqif mengambil langkah damai. Mereka mendatangi Rasulullah SAW dan menyatakan kesiapan untuk menerima Islam.

Salah satu tokohnya, Urwah bin Mas'ud, berperan penting dalam mengajak masyarakat bersyahadat. Berhala seperti Allat dihancurkan, dan masyarakat mulai membangun kehidupan baru berlandaskan Islam.

Rasulullah SAW kemudian mengirim para sahabat untuk mengajarkan Islam di Thaif. Di antaranya adalah Abdullah bin Abbas, seorang ulama besar yang dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadis.

Ia bahkan berwasiat agar dimakamkan di Thaif sebagai bentuk kecintaannya pada wilayah tersebut. Selain itu, tokoh lain seperti Muhammad bin Hanafiyah juga berperan dalam perkembangan Islam di sana.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam Islam tidak hanya diukur dari keberhasilan militer, tetapi juga dari akhlak, kebijaksanaan, dan kemampuan membangun perdamaian. Ramadan menjadi saksi bagaimana perjuangan tidak selalu berakhir dengan pedang, tetapi juga dengan hati yang ditundukkan oleh kebenaran.