Seorang wanita mengibarkan bendera nasional Iran di depan papan reklame raksasa bertuliskan 'Selat Hormuz tetap ditutup' di Lapangan Revolusi. (Foto: AFP).
RIYADH, (ERAKINI) - Harapan baru untuk meredakan konflik Timur Tengah kembali mencuat setelah Presiden Amerika SerikatDonald Trump memberi sinyal bahwa putaran negosiasi damai antara AS dan Iran berpotensi segera digelar dalam waktu dekat.
Pembicaraan lanjutan ini bahkan disebut bisa dimulai paling cepat pekan ini, di tengah tekanan internasional yang semakin kuat agar kedua negara kembali ke meja perundingan setelah kegagalan dialog sebelumnya di Islamabad.
Sejumlah negara dan kekuatan global turut mendorong proses diplomasi ini. Pakistan kembali menawarkan diri sebagai tuan rumah, sementara China mengajukan inisiatif perdamaian. Di sisi lain, Prancis juga mendesak agar negosiasi segera dilanjutkan.
Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran menunjukkan minat besar untuk mencapai kesepakatan. “Kami telah dihubungi oleh pihak lain. Mereka ingin membuat kesepakatan. Sangat ingin,” ujarnya. Ia bahkan menambahkan, “Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan.”
Menurut Trump, Islamabad berpeluang besar kembali menjadi lokasi perundingan, seraya memuji peran Asim Munir yang dinilai “melakukan pekerjaan yang hebat.”
Namun di sisi lain, dalam wawancara dengan ABC News, Trump mengisyaratkan bahwa ia tidak terlalu mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Meski begitu, ia tetap melihat kesepakatan damai sebagai opsi terbaik. “Ini bisa berakhir dengan cara apa pun, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik karena kemudian mereka dapat membangun kembali,” katanya.
Pemerintah Pakistan menegaskan bahwa proses negosiasi ini merupakan bagian dari diplomasi berkelanjutan, bukan sekadar upaya satu kali. Mereka bahkan telah mengusulkan putaran kedua pembicaraan di Islamabad.
Sumber yang terlibat dalam proses tersebut menyebutkan bahwa proposal telah disampaikan kepada kedua pihak, meski jadwal pasti belum ditentukan. Delegasi dari masing-masing negara disebut masih membuka kemungkinan waktu antara akhir pekan ini.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut melakukan komunikasi intensif dengan Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menekankan pentingnya menjaga komitmen gencatan senjata. “Sangat penting, khususnya, agar gencatan senjata dihormati secara ketat oleh semua pihak,” tegas Macron.
Dukungan juga datang dari Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang menilai China memiliki peran krusial dalam meredakan konflik, termasuk di kawasan Selat Hormuz. Presiden China Xi Jinping pun mengajukan proposal damai yang menekankan prinsip hidup berdampingan secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan global.
Dalam pernyataannya, Xi mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjunjung hukum internasional. “Jagalah otoritas hukum internasional. Tidak bisa ‘gunakanlah ketika sesuai dengan kepentingan kita, buanglah ketika tidak sesuai,’ dan kita tidak bisa membiarkan dunia kembali ke hukum rimba,” ujarnya.
Dengan berbagai tekanan dan inisiatif yang muncul dari banyak pihak, peluang tercapainya kesepakatan damai kini kembali terbuka, meski tantangan besar masih membayangi proses diplomasi tersebut.