Di atas, sebuah kapal di Selat Hormuz, lepas pantai provinsi Musandam, Oman, pada 12 April 2026. (Foto: Reuters).
TEHERAN, (ERAKINI) - Ketegangan geopolitik memanas setelah militer Iran menuding pembatasan kapal oleh Amerika Serikat di perairan internasional sebagai tindakan ilegal yang bahkan ‘sama dengan pembajakan’. Pernyataan keras ini disampaikan juru bicara angkatan bersenjata Iran pada Senin (13/4/2026), menyusul rencana Washington untuk memblokade .
Pihak Iran menegaskan akan menerapkan “mekanisme permanen” guna mengontrol jalur strategis tersebut. Mereka juga memperingatkan bahwa akses pelabuhan di kawasan Teluk harus berlaku adil bagi semua pihak. Jika pelabuhan Iran terancam, maka tidak ada pelabuhan lain di Teluk maupun Teluk Oman yang bisa dianggap aman.
Di tengah situasi yang memanas, China menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan keamanan jalur pelayaran global tersebut.
Ia menyatakan bahwa menjaga Selat Hormuz tetap aman dan terbuka adalah kepentingan bersama komunitas internasional. China juga menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dalam memastikan keamanan pasokan energi dunia tetap terjaga.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan peringatan tegas usai gagalnya perundingan dengan Washington. Ia mengatakan, “Niat baik melahirkan niat baik. Permusuhan melahirkan permusuhan,” seraya menegaskan bahwa Iran siap merespons setiap tindakan dengan sikap yang setimpal.
Araghchi juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses negosiasi yang menurutnya diwarnai “maksimalisme, perubahan target, dan blokade,” bahkan saat kesepakatan hampir tercapai melalui nota kesepahaman di Islamabad.
Ketegangan meningkat setelah Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade terhadap lalu lintas kapal menuju dan dari pelabuhan Iran. Langkah ini diambil setelah perundingan penting antara kedua negara, yang merupakan kontak langsung pertama dalam lebih dari satu dekade, berakhir tanpa hasil.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa kebijakan tersebut akan diberlakukan terhadap semua kapal tanpa memandang kebangsaan yang keluar-masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman. Namun, mereka menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz untuk kapal non-Iran tetap dijaga.
Trump juga memperingatkan bahwa kapal yang membayar “pungutan ilegal” kepada Iran akan menjadi target, serta mengancam akan membersihkan ranjau yang disebut ditanam oleh pasukan Iran di jalur strategis tersebut. Ia menegaskan, “Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” dan memperingatkan respons militer besar jika terjadi serangan terhadap kapal AS atau komersial.
Reaksi Iran berlangsung cepat. Pasukan Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati kawasan tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ‘ditindak dengan keras dan tegas’. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menolak tekanan dari AS. Ia menegaskan, “Jika Anda berperang, kami akan berperang, dan jika Anda mengajukan logika, kami akan menanggapinya dengan logika.”
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi Amerika menyebut kegagalan negosiasi sebagai “kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada bagi Amerika Serikat.”
Meski demikian, Trump masih membuka peluang diplomasi lanjutan. Ia menggambarkan pembicaraan sebagai ‘sangat ramah’ dan menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan kembali ke meja perundingan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam komunikasi dengan Vladimir Putin, menegaskan bahwa Teheran menginginkan kesepakatan yang adil dan seimbang. Ia juga menyebut bahwa kesepakatan bukan hal yang mustahil jika AS kembali pada kerangka hukum internasional.
Kebuntuan ini terjadi setelah enam minggu konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa dan mengguncang pasar global, termasuk melonjaknya harga minyak hingga menembus 100 dolar per barel. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial, mengingat sekitar 20% pasokan energi dunia melewati jalur tersebut.
Meski ancaman blokade semakin nyata, data pelayaran menunjukkan bahwa beberapa kapal tanker raksasa masih sempat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu lalu, memberikan sinyal bahwa aktivitas belum sepenuhnya lumpuh, meskipun bayang-bayang krisis besar semakin dekat.