Harga minyak dunia kembali turun pada Selasa (14/4/2026), seiring munculnya harapan akan adanya perundingan damai lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) –Harga minyak dunia kembali turun pada Selasa (14/4/2026), seiring munculnya harapan akan adanya perundingan damai lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kabar ini meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.
Presiden ASDonald Trump mengatakan bahwa Teheran telah menghubungi Washington terkait kemungkinan kesepakatan. Pernyataan Trump ini langsung disambut positif pasar.
“Saya bisa katakan bahwa pihak lain (Iran) telah menghubungi kami. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih, dilansir BBC.
Harga minyak mentah acuan global, Brent, hari ini turun tipis 0,2% menjadi 99,14 dolar AS per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS melemah 1,6% menjadi 97,48 dolar AS.
Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel setelah Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz menyusul buntunya negosiasi kedua negara di Pakistan pada Sabtu lalu.
Sementara itu, New York Times melaporkan bahwa Iran mengusulkan penghentian pengayaan uranium hingga lima tahun. Namun, tawaran itu ditolak AS yang menginginkan penghentian selama 20 tahun.
Laporan tersebut, yang mengutip pejabat Iran dan AS, juga menyebut bahwa Washington dan Teheran saling bertukar proposal untuk menghentikan aktivitas nuklir Iran dalam pembicaraan di Pakistan, tetapi masih jauh dari kesepakatan.
Meski begitu, diskusi tersebut menunjukkan masih adanya peluang menuju kesepakatan damai, dengan kemungkinan putaran kedua pembicaraan tatap muka.
Jiajia Yang, profesor asosiasi di James Cook University, Australia, menilai komentar Trump sebagai sinyal kemungkinan de-eskalasi. Penurunan harga minyak juga bisa disebabkan oleh aksi koreksi jangka pendek para pelaku pasar setelah lonjakan tajam pada Senin.
Pasar kini akan mencermati apakah Teheran akan menunda program nuklirnya, langkah yang dinilai dapat secara signifikan meredakan ketegangan. Namun, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menilai harga minyak saat ini belum mencerminkan seriusnya situasi di Timur Tengah.
Meski harga telah turun dari 100 dolar AS per barel, minyak masih jauh lebih mahal dibanding sebelum perang Iran dimulai pada 28 Februari, saat berada di sekitar 73 dolar AS.
“April bisa jadi lebih buruk dibanding Maret, karena selama Maret kami masih menerima kargo yang dimuat sebelum krisis dimulai. Sementara pada April, tidak ada muatan baru,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol. “Semakin lama gangguan berlangsung, semakin parah dampaknya,” tambahnya.
Gangguan Terbesar dalam Sejarah
Dalam laporan bulanan terbarunya, IEA menyebut pasokan minyak global mengalami gangguan terbesar dalam sejarah pada Maret, dimana turun 10,1 juta barel per hari menjadi 97 juta barel.
Bulan lalu, seluruh 32 anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel cadangan minyak untuk meredakan tekanan pasokan. Birol juga mengisyaratkan lembaganya siap bertindak kembali.
“400 juta barel itu hanya 20% dari cadangan kami. Kami masih memiliki 80% lainnya. Kami sedang mengevaluasi situasi, dan jika saatnya tiba, kami siap bertindak segera,” tuturnya.
Para pelaku pasar juga mempertimbangkan dampak blokade AS terhadap pasokan energi global, kata Rahman Daiyan, peneliti sumber daya energi di University of New South Wales, Sydney.
Meskipun kontribusi langsung Iran terhadap pasokan minyak global tergolong kecil, harga bisa melonjak jika blokade AS memperluas konflik dan mengganggu pengiriman lain dari kawasan Teluk.
Pada Senin (13/4), Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa harga minyak diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa pekan ke depan selama Selat Hormuz masih tertutup.
“Kita akan melihat harga energi tetap tinggi, bahkan mungkin terus naik, hingga lalu lintas kapal kembali normal di Selat Hormuz,” ujarnya dalam forum Semafor World Economy di Washington.