Trump juga mengatakan bahwa dia yakin akan ada lebih banyak pembicaraan. (Foto: Reuters).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan sikap tegasnya terkait kegagalan perundingan dengan Iran. Ia bahkan menyatakan tidak peduli apakah Teheran akan kembali ke meja negosiasi atau tidak.
“Saya tidak peduli apakah mereka kembali atau tidak. Jika mereka tidak kembali, saya baik-baik saja,” ujar Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, usai kembali dari Florida.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan. Situasi ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait rencana blokade di Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi dunia.
Seiring meningkatnya eskalasi, kapal-kapal tanker minyak mulai menghindari kawasan tersebut pada Senin sore, berdasarkan data pelayaran. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran industri terhadap potensi gangguan distribusi minyak global.
Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade di Selat Hormuz, langkah yang dinilai semakin memperbesar risiko konflik setelah negosiasi panjang gagal mengakhiri perang dan justru mengancam gencatan senjata yang masih rapuh.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa operasi blokade akan dimulai pukul 10.00 waktu setempat (1400 GMT), dengan sasaran seluruh lalu lintas maritim yang keluar-masuk pelabuhan Iran.
Dalam pernyataan resminya disebutkan bahwa kebijakan ini akan “diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.”
Meski demikian, AS menegaskan tidak akan mengganggu kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas menuju pelabuhan non-Iran. Informasi tambahan juga akan disampaikan kepada pelaku pelayaran komersial sebelum kebijakan diberlakukan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati kawasan Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak dengan keras dan tegas.
Data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker berbendera Pakistan, Shalamar dan Khairpur, telah memasuki kawasan Teluk. Shalamar dijadwalkan menuju Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah, sementara Khairpur bergerak ke Kuwait untuk mengangkut produk olahan.
Sementara itu, kapal tanker raksasa berbendera Liberia, Mombasa B, tengah melakukan pengisian bahan bakar di Teluk setelah sebelumnya melintasi selat tersebut.
Berbeda dengan itu, kapal VLCC berbendera Malta, Agios Fanourios I, yang sempat mencoba memasuki Teluk untuk mengambil muatan minyak mentah dari Basra, Irak, memilih berbalik arah dan kini berlabuh di sekitar Teluk Oman sebelum melanjutkan perjalanan.
Di tengah ketidakpastian ini, tiga kapal tanker super yang penuh muatan minyak masih sempat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu lalu. Mereka diduga menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan pekan sebelumnya, menunjukkan bahwa meski situasi memanas, jalur pelayaran belum sepenuhnya lumpuh.