Sabar Munasir (sebelah kiri) bersama Ibunya saat di Arab Saudi (Foto: MCH 2026).
MADINAH, (ERAKINI) - Di antara ribuan jemaah haji Indonesia yang menunaikan ibadah di Tanah Suci tahun 2026, kisah Sabar Munasir (35) asal Kabupaten Wonosobo menjadi salah satu cerita yang menginspirasi.
Pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar (SD) itu berangkat haji menggantikan ayahnya, Munasir (71), yang gagal berangkat karena kondisi kesehatan tidak memenuhi syarat istitaah. Namun bagi Sabar, keberangkatan tersebut bukan sekadar pelimpahan kursi haji, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan.
Bahkan, sebelum berangkat ke Tanah Suci, ia menyerahkan uang Rp50 juta kepada ayahnya sebagai bentuk tanggung jawab atas biaya haji yang telah dibayarkan sang ayah sejak belasan tahun lalu.
"Saya menganggap ini hutang kepada bapak. Walaupun saya yang berangkat, saya tetap mengganti biaya yang sudah dikeluarkan bapak sebesar Rp50 juta," ujar Sabar saat ditemui di Mirage Taiba Hotel, Madinah, Sabtu (20/6/2026).
Keputusan itu bukan perkara mudah. Terlebih, Sabar mengaku baru dua tahun terakhir berjuang melunasi utang usaha yang nilainya mencapai Rp 500 juta di salah satu bank.
Menurutnya, seluruh hutang tersebut sengaja diselesaikan sebelum berangkat haji. Ia meyakini ibadah haji merupakan perjalanan jihad yang penuh risiko sehingga tidak ingin meninggalkan beban kepada keluarga maupun orang lain.
"Haji ini medan jihad. Kita tidak pernah tahu bisa pulang lagi atau tidak. Karena itu saya berusaha melunasi semua hutang sebelum berangkat," katanya.
Bahkan menjelang keberangkatan, Sabar masih melunasi hutang terakhir senilai Rp125 juta. Setelah seluruh kewajiban diselesaikan, uang yang tersisa untuk bekal keberangkatan haji hanya sekitar Rp5 juta.
"Yang penting hutang selesai dulu. Soal bekal nanti Allah yang cukupkan," ujarnya.
Sabar lahir dari keluarga sederhana. Ibunya, Painah, sehari-hari berjualan daun pisang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bersama sang ibu itulah ia kini menunaikan ibadah haji.
Keberangkatan bersama ibunya menjadi alasan utama dirinya menerima pelimpahan kursi haji dari sang ayah. Ia mengaku tidak tega jika ibunya harus berangkat seorang diri ke Tanah Suci karena hanya menguasai bahasa Jawa.
"Saya kasihan ibu kalau berangkat sendiri. Beliau hanya bisa bahasa Jawa. Akhirnya keluarga bermusyawarah dan saya yang menggantikan bapak," ungkapnya.
Di antara empat bersaudara, Sabar mengaku dirinya yang paling pas karena punya kemampuan dalam urusan keagamaan, meski tidak banyak. Karena itu keluarga sepakat menunjuknya untuk mendampingi sang ibu menjalankan ibadah haji.
Meski hanya lulusan SD, Sabar memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia pernah merantau ke Jakarta dan bekerja kepada seorang juragan yang mengajarkannya disiplin, ketekunan, serta pentingnya tirakat dalam mencari rezeki.
Kini ia mengelola toko kelontong di wilayah Sambek, Wonosobo. Dengan memanfaatkan teknologi pembayaran digital seperti QRIS, usahanya berkembang pesat.
"Saya selalu siap melayani pembeli kapan pun. Mau datang malam atau pagi, kalau soal rezeki jangan ditolak," katanya.
Prinsip "siap melayani" itu ternyata diwarisi dari ibunya. Ia masih ingat bagaimana sang ibu rela mencari daun pisang hingga larut malam demi memenuhi pesanan pelanggan.
"Dulu ibu ada pesanan daun pisang jam 10 malam, jam 11 malam tetap dicari. Dari situ saya belajar bahwa rezeki harus dijemput, jangan ditolak," tuturnya.
Sabar mengaku tidak memiliki resep khusus hingga mampu melunasi hutang ratusan juta rupiah dalam waktu relatif singkat. Namun ia meyakini ada dua hal yang menjadi kunci keberhasilannya, yakni menghormati orang tua dan menjaga kepercayaan orang lain.
Baginya, doa orang tua merupakan kekuatan terbesar dalam hidup.
"Orang tua adalah tuhan hidup di dunia. Saya sudah banyak mendatangi orang pintar dan dukun, tapi tidak ada doa yang lebih hebat daripada doa orang tua," ujarnya.