NATO menggelontorkan triliunan rupiah untuk persenjataan dan bersiap menggelar demonstrasi kekuatan militer 'pamer kekuatan' demi meyakinkan Presiden AS Donal Trump. (Foto: The Seattle Times).
ANKARA, (ERAKINI) – NATO bersiap menggelar demonstrasi kekuatan militer dalam skala besar dengan mengumumkan sejumlah proyek pertahanan bernilai puluhan miliar dolar AS. Langkah ini dilakukan untuk menunjukkan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa negara-negara anggota aliansi benar-benar meningkatkan kemampuan tempur mereka, bukan sekadar menambah angka belanja pertahanan di atas kertas.
Dalam agenda yang disebut sebagai “pengungkapan besar-besaran” atau big reveal, para pemimpin negara anggota NATO dijadwalkan mengumumkan berbagai kontrak baru dengan perusahaan industri pertahanan, termasuk sejumlah produsen senjata asal Amerika Serikat.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menegaskan bahwa kesepakatan yang akan diumumkan mencakup kebutuhan strategis untuk memperkuat daya tangkal dan pertahanan aliansi. "Kami akan mengumumkan kontrak baru bernilai puluhan miliar yang akan menyediakan peralatan krusial yang kami butuhkan untuk pencegahan dan pertahanan," ujar Rutte kepada wartawan menjelang pelaksanaan KTT NATO selama dua hari di Turki.
Langkah tersebut muncul setelah NATO berupaya meyakinkan Washington mengenai komitmen anggotanya dalam meningkatkan belanja militer. Beberapa pekan lalu, Rutte bahkan mempresentasikan grafik bertajuk The Trump Trillion yang menunjukkan bahwa negara-negara Eropa dan Kanada telah menggelontorkan sekitar 1,2 triliun dolar AS untuk pertahanan sejak 2017.
Namun, upaya itu tampaknya belum sepenuhnya memuaskan Trump. Presiden AS tersebut sebelumnya mengkritik sejumlah sekutu NATO yang menolak terlibat dalam konflik melawan Iran yang pecah setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel. "Kami tidak butuh uang mereka—kami tidak butuh apa pun. Saya hanya menginginkan kesetiaan," kata Trump.
Salah satu proyek utama yang diperkirakan diumumkan dalam KTT kali ini adalah program penggantian armada pesawat pengintai AWACS milik NATO yang telah beroperasi selama hampir lima dekade.
Meski NATO tidak memiliki kekuatan militer sendiri karena seluruh aset tempur berada di bawah kendali 32 negara anggotanya, organisasi tersebut mengoperasikan sejumlah pesawat peringatan dini AWACS serta drone pengintai yang digunakan dalam berbagai misi aliansi. Selain itu, beberapa proyek pertahanan baru akan memperoleh dukungan pembiayaan dari program pinjaman pertahanan Uni Eropa senilai sekitar 170 miliar dolar AS yang dihimpun melalui pasar keuangan.
Rutte menegaskan bahwa tujuan utama NATO saat ini adalah mengubah kekuatan ekonomi menjadi kemampuan militer yang nyata. "Kita perlu memastikan bahwa kita mengubah kekuatan ekonomi menjadi kemampuan militer, serta memanfaatkan dana tersebut untuk berbagai hal, mulai dari rencana pertahanan hingga drone, dan dari anggaran hingga rudal serta pencegat," tegasnya.
KTT NATO kali ini berlangsung di kompleks kepresidenan milik Recep Tayyip Erdoğan di Ankara. Menjelang pertemuan tersebut, Trump bahkan mengisyaratkan akan membawa “hadiah” bagi Erdogan.
Namun, isu penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Turki memunculkan perdebatan baru. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka meminta Washington untuk tidak melanjutkan rencana tersebut.
Dalam wawancara dengan program televisi Fox & Friends, Netanyahu menilai langkah itu berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah. "Penjualan F-35 ke Turki akan mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, yang pada akhirnya dijamin oleh keunggulan udara Israel dan juga, menurut saya, oleh posisi Amerika di Timur Tengah," ujarnya.
Turki sebelumnya dikeluarkan dari program F-35 pada 2019 setelah membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia. Namun hubungan personal yang cukup dekat antara Trump dan Erdogan memunculkan spekulasi bahwa penjualan pesawat tempur generasi kelima tersebut dapat kembali dibuka.
Di balik berbagai pengumuman kontrak senjata dan modernisasi militer, pesan utama yang ingin disampaikan dalam KTT ini adalah perlunya Eropa memperkuat kapasitas pertahanannya sendiri.
Pemerintahan Trump berulang kali menegaskan bahwa negara-negara Eropa harus mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan mereka, sementara Amerika Serikat mengalihkan fokus strategis ke kawasan Indo-Pasifik dan menghadapi pengaruh Tiongkok yang terus meningkat.
Departemen Pertahanan AS bahkan mendorong konsep yang dikenal sebagai “NATO 3.0”, yakni model aliansi baru yang memberi peran lebih besar kepada negara-negara Eropa dalam urusan pertahanan sehingga Washington dapat memusatkan sumber dayanya pada prioritas global lainnya.
Namun, peningkatan anggaran militer bukan perkara mudah. Banyak negara menghadapi dilema antara memperkuat pertahanan atau mempertahankan anggaran untuk sektor publik lainnya.
Di Inggris, perdebatan mengenai belanja militer semakin memanas. Kantor Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan bahwa pemimpin Inggris itu akan menggunakan KTT NATO untuk mendorong pembentukan aliansi yang lebih kuat dan lebih berorientasi pada kemampuan Eropa.
Meski pemerintah Inggris telah berkomitmen memenuhi target NATO dengan mengalokasikan 3,5 persen PDB untuk pertahanan pada 2035, hingga kini belum ada peta jalan rinci untuk mencapai sasaran tersebut. Berdasarkan proyeksi yang ada, anggaran pertahanan Inggris diperkirakan baru mencapai 2,7 persen PDB pada 2029.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap potensi ancaman Rusia terus meningkat di sejumlah negara Eropa Utara dan Eropa Timur. Banyak pihak meyakini Moskow dapat menggunakan kombinasi operasi militer konvensional, serangan siber, dan taktik hibrida lainnya untuk menekan kawasan tersebut di tengah berlanjutnya konflik di Ukraina yang melibatkan pemerintahan Presiden Rusia, Vladimir Putin.