Jenderal Juan Jose Zuniga ditangkap karena dituduh sebagai pemimpin kudeta yang berlangsung pada Rabu (26/6/2024). Foto: AP
JAKARTA, (ERAKINI) - Tokoh di balik upaya kudeta yang mengguncang Bolivia masih menjadi misteri bagi sebagian besar negara. Namun, Jenderal Juan Jose Zuniga telah ditangkap karena dituduh sebagai pemimpin kudeta yang berlangsung pada Rabu (26/6/2024).
Tidak banyak yang tahu sebelum menyerbu istana kepresidenan, bahwa Juan Jose Zuniga menjabat sebagai panglima angkatan bersenjata negara itu dari tahun 2022 hingga pemecatan dan penangkapannya yang dramatis pada hari Rabu.
Sebagai seorang militer karier, Zuniga ternyata berutang jabatannya kepada presiden yang ingin ia gulingkan dalam upaya kudeta. Dilasir AP, Jumat (28/6/2024), Presiden Luis Arce memilih Zuniga sebagai panglima militer dua tahun lalu, sehingga pejabat intelijen biasa yang mendapat nilai dalam kategori rendah dalam ujian masuk militernya naik ke pangkat tertinggi militer.
Kenaikan pangkat yang tiba-tiba ini sempat membuat marah para perwira. Para analis juga bingung. Mereka menafsirkan tindakan Arce sebagai imbalan atas kesetiaan sang jenderal. Bahkan ketika Arce merombak posisi militer penting lainnya, yang terbaru pada bulan Januari, Zuniga tetap di tempatnya.
“Zuniga adalah orangnya Arce,” kata Kathryn Ledebur, Direktur Jaringan Informasi Andean, sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Bolivia. “Dia bukan dalang…dia agak bodoh tapi dia dianggap sangat setia pada Arce,” lanjutnya.
“Dia adalah seorang militer namun tidak memiliki kemampuan untuk memimpin angkatan bersenjata,” kata pensiunan perwira militer dan analis keamanan Jorge Santiesteban, menggambarkan penunjukan Zuiiga sebagai hak “tidak biasa.”
Rabu bukanlah pertama kalinya Zuniga menjadi pusat kontroversi. Pada tahun 2013, sang jenderal menghadapi badai tuduhan menggelapkan dana militer senilai hampir USD400.000 yang ditujukan untuk mendukung anak-anak dan orang lanjut usia. Militer lalu mengirimnya ke penjara selama tujuh hari karena tuduhan menyalahgunakan uang serta bepergian ke luar negeri tanpa izin.
Zuniga membantah melakukan kesalahan, dan menjelaskan bahwa hukuman tersebut merupakan hasil penyelidikan internal militer, bukan criminal. Ia hanya dianggap gagal mengendalikan bawahannya. Terlepas dari kesalahannya, Zuniga dikenal dekat dan memiliki posisi strategis serta koneksi yang baik dengan sang Presiden.
Media-media di Bolivia melaporkan bahwa ia menjalin kontak dekat dengan serikat pekerja yang berpengaruh di negara tersebut. Dia telah membina hubungan pribadi dengan Presiden Arce. Sebuah foto yang beredar di media sosial baru-baru ini menunjukkan keduanya akrab dalam satu tim bola basket dan tersenyum Bersama di lapangan.
Hubungannya dengan mantan Presiden Bolivia Evo Morales jauh lebih buruk. Ketika Arce mengangkat Zuniga menjadi panglima militer, Morales langsung mengulik tuduhan lama tentang penggelapan dan menuduh sang jenderal berkonspirasi dengan pejabat intelijen lainnya.
Ketika Morales kini kembali menjadi sorotan nasional, bersaing dengan Arce untuk menguasai partai yang berkuasa di Bolivia, ikon sayap kiri ini kembali mengecam Zuniga dalam beberapa pekan terakhir, dengan mengatakan bahwa sang jenderal ingin menghancurkannya.
Zuniga menanggapi tuduhan Morales dalam sebuah wawancara TV pada hari Senin, mengancam akan menangkap Morales jika dia mencalonkan diri melawan Arce dalam Pemilu 2025.
“Militer harus menegakkan konstitusi,” kata Zuniga, mengacu pada perintah pengadilan yang melarang Morales mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga yang inkonstitusional.
Pencalonan Morales sebagai presiden telah menyebabkan keretakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Arce, mantan sekutunya dan menteri perekonomian. Seperti Zuniga, Presiden Arce menyangkal legitimasi kampanyenya.
Namun peraturan melarang perwira militer Bolivia melakukan intervensi dalam politik dalam negeri, dan ancaman Zuniga langsung menimbulkan reaksi balik. Morales menjawab bahwa komentar seperti itu dari seorang pejabat militer tidak pernah terjadi dalam negara demokrasi.
Menurut Menteri Pertahanan Edmundo Novillo, saat itulah Presiden Arce memanggil Zuniga untuk menghukumnya dalam pertemuan pribadi. Dan, kurang dari 12 jam kemudian pasukan Zuniga menyerbu Istana Presiden Arce.