Search

Trump: Iran Bisa Langsung Menelepon jika Ingin Berunding untuk Negosiasi dan Akhiri Konflik

WASHINGTON, (ERAKINI) – Ketegangan geopolitik kembali memuncak ketika Donald Trump menyatakan bahwa Iran dapat langsung menghubungi pihaknya jika ingin membuka jalur negosiasi guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua bulan.

Dalam wawancara dengan media AS, Trump menegaskan, “Jika mereka ingin berbicara, mereka dapat datang kepada kami, atau mereka dapat menghubungi kami. Anda tahu, ada telepon. Kami memiliki saluran yang bagus dan aman.” Ia juga menekankan syarat utama perjanjian: “Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak, tidak ada alasan untuk bertemu.”

Pernyataan ini muncul di tengah pergerakan diplomatik intens dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang melakukan perjalanan ke sejumlah negara mediator seperti Pakistan dan Oman. Ia juga dijadwalkan bertemu Presiden Vladimir Putin di Saint Petersburg sebagai bagian dari upaya memperkuat jalur diplomasi.

Laporan menyebutkan bahwa Iran telah mengajukan proposal baru melalui mediator, termasuk opsi pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian konflik secara bertahap, sementara pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya.

Namun, peluang perdamaian masih terhambat. Sebelumnya, Trump membatalkan rencana kunjungan utusan AS seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, dengan alasan tawaran Iran dinilai belum memadai.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan. Ia menyatakan bahwa Teheran menolak “negosiasi yang dipaksakan” dan menuntut pencabutan blokade, termasuk pembatasan terhadap pelabuhan dan jalur laut Iran.

Konflik ini tak hanya soal nuklir. Washington juga ingin membatasi dukungan Iran terhadap kelompok seperti Hizbullah dan Hamas, serta kemampuan rudal balistiknya. Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi dan penghentian serangan Israel terhadap sekutunya.

Ketegangan turut berdampak besar pada ekonomi global. Penutupan sebagian jalur di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia, telah memicu lonjakan harga energi dan memperburuk inflasi global.

Meski gencatan senjata sementara telah meredakan pertempuran skala besar sejak konflik meletus pada akhir Februari, belum ada kesepakatan final terkait penghentian perang. Tekanan domestik terhadap Trump pun meningkat seiring menurunnya popularitasnya di dalam negeri.