Para demonstran pro-pemerintah Iran meneriakkan slogan-slogan dalam sebuah pertemuan setelah pengumuman gencatan senjata selama dua minggu dalam perang dengan Amerika Serikat dan Israel, di Lapangan Enqelab-e-Eslami, atau Lapangan Revolusi Islam, di Teheran, Iran, Rabu, 8 April 2026. (Foto: AP).
RIYADH, (ERAKINI) - Keputusan mendadak untuk menghentikan sementara konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran selama dua minggu langsung menuai respons positif dari berbagai negara. Di tengah kekhawatiran akan eskalasi besar, langkah ini dipandang sebagai peluang langka untuk membuka jalan menuju perdamaian yang lebih luas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya melontarkan ancaman ekstrem dengan menyatakan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini.” Namun, ia kemudian melunak dan memilih jalur diplomasi setelah adanya mediasi dari Pakistan. Trump menyatakan kesediaannya menunda serangan terhadap Iran dengan syarat Teheran menyetujui gencatan senjata serta membuka penuh akses Selat Hormuz.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator utama, mengungkapkan optimismenya terhadap proses damai ini. Ia bahkan telah mengundang delegasi dari Iran dan Amerika Serikat untuk bertemu di Islamabad.
Dalam pernyataannya, Sharif menegaskan, “Kedua pihak telah menunjukkan kebijaksanaan dan pemahaman yang luar biasa dan tetap terlibat secara konstruktif dalam memajukan perdamaian dan stabilitas.” Ia juga menambahkan harapan besar bahwa “Perundingan Islamabad” mampu menghasilkan solusi damai yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap kesepakatan ini datang dari berbagai penjuru dunia
Irak
Irak menyambut baik langkah tersebut dan mendesak agar momentum ini dilanjutkan melalui “dialog serius dan berkelanjutan” guna menyelesaikan akar konflik serta membangun kembali kepercayaan antar pihak.
Australia
Australia, melalui Perdana Menteri Anthony Albanese, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya diplomatik. Ia juga mengapresiasi peran negara-negara seperti Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi dalam mendorong de-eskalasi konflik.
Mesir
Mesir menilai gencatan senjata ini sebagai langkah penting yang harus dijaga. Pemerintahnya menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara-negara kawasan, khususnya anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Yordania, demi menjaga stabilitas regional.
PBB
Dari level global, PBB melalui Sekretaris Jenderal Antonio Guterres turut menyambut baik kesepakatan ini.Melalui juru bicaranya, disampaikan bahwa Guterres “menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik saat ini di Timur Tengah untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata,” demi membuka jalan menuju perdamaian yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Tak hanya ranah politik, efek dari pengumuman ini juga langsung terasa di sektor ekonomi global. Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam, sementara pasar saham menunjukkan penguatan.
Perkembangan ini dipicu oleh kesepakatan yang memungkinkan Iran kembali membuka sementara Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Kepastian akses ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Trump juga mengungkapkan bahwa ia telah menerima proposal perdamaian 10 poin dari Iran yang disebutnya “dapat diterapkan,” memperkuat harapan bahwa jeda dua minggu ini bisa menjadi awal dari penyelesaian konflik yang lebih permanen.