Aksi unjuk rasa memprotes penangkapan Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu di Istanbul, Turki, Sabtu (29/3/2025). Foto: Reuters
ISTANBUL, (ERAKINI) - Ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan di Istanbul, Turki, pada Sabtu (29/3/2025), untuk memprotes penahanan Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu. Demonstrasi massal itu merupakan yang terbaru dalam gelombang protes nasional yang telah melanda sebagian wilayah Turki sejak penangkapan Ekrem Imamoglu pada 19 Maret lalu.
Penahanan Imamoglu, yang dianggap sebagai pesaing utama Presiden Recep Tayyip Erdogan, didasarkan pada tuduhan korupsi dan terorisme, meskipun dakwaan terorisme sebelumnya telah dibatalkan oleh pengadilan.
Dalam rapat umum tersebut, sebuah surat dari Imamoglu dibacakan, yang kemudian disambut sorak sorai dari para pengunjuk rasa. “Saya tidak takut, kalian ada di belakang saya dan di samping saya. Saya tidak takut karena bangsa ini bersatu. Bangsa ini bersatu melawan penindas,” kata surat itu, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (30/3/2025).
Pemerintah Turki menanggapi kritik tersebut dengan membantah bahwa tindakan terhadap Imamoglu bermotif politik. Mereka menegaskan bahwa peradilan di negara tersebut bersifat independen dan bebas dari campur tangan politik.
Presiden Erdogan minggu ini mengecam demonstrasi tersebut, menyebut mereka yang terlibat dalam aksi protes sebagai pihak yang berusaha menyebarkan teror. “Mereka yang menyebarkan teror di jalan dan ingin membakar negara ini tidak punya tujuan. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan buntu,” ujarnya.
Bagi banyak pengunjuk rasa, protes ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan pelanggaran hukum. "Kita harus menentang ketidakadilan dan pelanggaran hukum. Saya berusia 25 tahun dan hanya mengenal satu pemerintahan, saya ingin melihat perubahan," ujar seorang pengunjuk rasa kepada Al Jazeera.
Sementara yang lainnya menambahkan, "Sebuah negara hanya kuat jika adil, tetapi saya tidak punya harapan. Peradilan tidak independen."
Penahanan Imamoglu, yang kemudian diikuti dengan penangkapan resmi atas tuduhan korupsi pada 23 Maret, telah memicu gelombang protes meskipun ada larangan berkumpul, tindakan keras polisi, dan ancaman tuntutan hukum. Sejak 19 Maret, hampir 1.900 orang telah ditahan, dan laporan media pro-pemerintah menyebutkan bahwa jaksa penuntut umum telah meminta hukuman penjara hingga tiga tahun untuk 74 di antaranya.
Ozgur Ozel, pemimpin Partai Rakyat Republik (CHP) yang mengorganisir protes tersebut, menyatakan bahwa tindakan pemerintah bertujuan untuk mengintimidasi masyarakat, terutama para pemuda, agar mereka tidak melanjutkan perjuangan mereka.
"Mereka hanya punya satu tujuan dalam pikiran: mengintimidasi mereka, membuat mereka takut, memastikan mereka tidak akan pernah keluar lagi," kata Ozel.
Pada rapat umum tersebut, beberapa tokoh penting turut berbicara, termasuk Dilek Imamoglu, istri dari Imamoglu, serta Wali Kota Ankara, Mansur Yavas. Ozel juga menyerukan pembebasan Imamoglu dan tahanan politik lainnya, seperti Selahattin Demirtas, mantan kandidat presiden dari Partai Kesetaraan Rakyat dan Demokrasi (HDP) yang pro-Kurdi.
Imamoglu, yang baru saja memenangkan pemilihan pendahuluan untuk menjadi kandidat presiden dalam Pemilihan 2028, meskipun kemungkinan akan digelar lebih awal, tetap menjadi simbol perjuangan bagi para pengunjuk rasa. Partai CHP juga akan mulai mengumpulkan tanda tangan untuk menuntut pembebasan Imamoglu dan mendesak pemilu lebih awal.