Truk yang membawa bantuan kemanusiaan melewati Khan Younis. (Foto: AP).
YERUSALEM, (ERAKINI) – Ketegangan di Jalur Gaza kembali memanas setelah serangkaian serangan udara Israel menghantam wilayah sipil, meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih secara formal berlaku. Dalam upaya meredam potensi pecahnya konflik skala penuh, dua utusan tinggi dari Amerika Serikat terbang ke Israel untuk melakukan diplomasi darurat.
Pada Senin (20/10/2025), penasihat khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, bersama menantu sekaligus penasihat senior Gedung Putih, Jared Kushner, melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membahas situasi terbaru di kawasan. Pertemuan ini dilakukan menyusul gelombang kekerasan terbaru yang merenggut nyawa warga Palestina, termasuk serangan balasan Israel yang menggunakan lebih dari 150 ton bom terhadap target yang diklaim sebagai posisi Hamas—namun kenyataannya, banyak warga sipil turut menjadi korban.
Balas Dendam Berdarah: Israel Serang Gaza setelah Dua Tentara Tewas
Akses perbatasan Kerem Shalom, satu-satunya jalur masuk utama bantuan kemanusiaan ke Gaza, sempat ditutup oleh Israel menyusul kematian dua tentaranya. Perbatasan ini kemudian dibuka kembali, namun tidak sebelum Israel meluncurkan rentetan serangan udara besar-besaran. Netanyahu dengan lantang menyebutkan bahwa operasi militer tersebut sebagai "balasan sah", padahal banyak pengamat menyebutnya sebagai aksi pembalasan brutal yang membabi buta.
Di sisi lain, masyarakat Gaza kembali menjadi korban. Empat warga sipil dilaporkan tewas, termasuk dua orang yang ditembak saat berusaha kembali ke rumah mereka di kawasan Al-Shaaf, timur Kota Gaza. Juru bicara layanan darurat Palestina, Mahmud Bassal, menyampaikan bahwa korban tengah mencoba memeriksa puing rumah mereka yang hancur, ketika peluru Israel menghentikan langkah mereka untuk selamanya.
Delegasi Hamas saat ini berada di Kairo untuk melanjutkan negosiasi gencatan senjata bersama para mediator dari Qatar dan Mesir. Namun, agresi Israel yang terus berlanjut dinilai melemahkan semua upaya diplomatik yang sedang diupayakan.
Utusan lainnya dari AS, Wakil Presiden JD Vance, dijadwalkan tiba di Israel pada Selasa (21/10). Ia akan bertemu Netanyahu untuk membahas isu "keamanan regional dan peluang diplomatik". Vance sebelumnya juga menyerukan agar negara-negara Teluk membangun infrastruktur keamanan guna memastikan Hamas dilucuti senjatanya—sebuah narasi yang dinilai berat sebelah dan abai terhadap akar konflik yang sesungguhnya: pendudukan ilegal dan kekerasan sistemik oleh Israel.
Kecaman Dunia Mulai Menguat, Uni Eropa Pertimbangkan Sanksi
PBB menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap meningkatnya kekerasan di Gaza. Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mengutamakan keselamatan warga sipil. Namun, kritik juga muncul bahwa seruan ini terlalu netral dan tidak cukup tegas mengecam tindakan Israel yang telah berulang kali melanggar hukum internasional.
Sementara itu, Uni Eropa mulai menunjukkan sikap lebih tegas. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengindikasikan bahwa blok tersebut sedang menimbang kemungkinan menjatuhkan sanksi terhadap Israel jika Tel Aviv terus mengabaikan komitmen gencatan senjata dan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Serangkaian peristiwa terbaru menunjukkan bahwa proses diplomatik hanya akan efektif jika disertai dengan tekanan nyata terhadap Israel untuk menghentikan aksi militernya terhadap rakyat Palestina. Pemboman tanpa henti, penutupan akses bantuan, hingga penembakan terhadap warga sipil adalah bukti nyata pelanggaran hak asasi manusia yang tak bisa terus dibiarkan.
Di saat utusan internasional sibuk berdiplomasi di ruang pertemuan, anak-anak Gaza berlindung di balik reruntuhan, dan keluarga-keluarga Palestina menguburkan orang-orang tercinta yang meregang nyawa di bawah hujan bom.