Diplomasi Dikhianati: Utusan AS Murka, Serangan Israel ke Qatar Rusak Upaya Damai Gaza
Akhmad Baihaqi Arsyad







Hal itu disampaikannya dalam cuplikan wawancara program CBS ‘60 Minutes’ yang akan tayang penuh hari Minggu (19/10/2025). Witkoff, yang merupakan kepala tim negosiasi Timur Tengah di bawah administrasi mantan Presiden Donald Trump, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas tindakan Israel yang disebutnya telah mengganggu proses damai yang tengah dijalin bersama Qatar, Mesir, dan Turki.
“Baik saya maupun Jared [Kushner] sama-sama merasa dikhianati. Serangan itu terjadi tanpa koordinasi, padahal kami tengah membangun komunikasi yang sangat rapuh dan krusial,” ujar Witkoff.
Serangan yang diluncurkan Israel pada 9 September di Doha, ibu kota negara sekutu utama AS di Teluk, terjadi saat perundingan damai dengan Hamas sedang berlangsung secara tidak langsung. Akibatnya, negosiasi penting untuk menghentikan konflik brutal di Jalur Gaza praktis runtuh dalam sekejap.
“Qatar adalah pemain kunci dalam proses damai ini. Begitu kepercayaan itu rusak, Hamas pun kembali beroperasi secara tersembunyi. Sangat sulit menjangkau mereka setelahnya,” ungkap Witkoff.
Dalam konteks ini, banyak pihak menilai tindakan Israel tidak hanya merusak upaya mediasi, tetapi juga membahayakan stabilitas regional dan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina di Gaza yang telah luluh lantak akibat agresi militer.
Netanyahu Ditekan Trump, Israel Akhirnya Minta Maaf
Menariknya, dalam laporan CBS, disebutkan bahwa permintaan maaf resmi kepada Qatar baru keluar setelah Benjamin Netanyahu ditekan langsung oleh Donald Trump saat kunjungannya ke Gedung Putih beberapa waktu lalu. Dalam momen tersebut, Netanyahu terpaksa menghubungi Perdana Menteri Qatar untuk menyampaikan permohonan maaf atas tindakan sepihak Israel.
Serangan ke Doha oleh Israel, yang selama ini mengklaim bertindak atas nama keamanan nasional, dilihat sebagai langkah provokatif dan tidak bertanggung jawab, mengingat Qatar tengah memainkan peran vital sebagai mediator utama dalam upaya menghentikan kekerasan.
Meski hubungan sempat memburuk, kedua pihak akhirnya menyetujui rencana perdamaian 20 poin yang disusun oleh tim Trump. Dokumen tersebut mencakup pembebasan sandera dan tahanan, serta kesepakatan gencatan senjata sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik yang telah menelan ribuan nyawa warga sipil Palestina sejak Oktober 2023.
Kasus ini mengungkapkan satu fakta tak terbantahkan: Israel siap mengorbankan proses damai, bahkan hubungan dengan sekutunya sendiri, demi kepentingan sepihaknya. Ketika jalur diplomasi menjadi sasaran, bukan hanya Gaza yang hancur, tapi juga harapan jutaan orang akan perdamaian yang adil.


